Catatan Singkat & Liputan “Photo Rendezvous” ke-3

Catatan Singkat & Liputan “Photo Rendezvous” ke-3 : Bedah Buku Fotografi 64 bersama Goenadi Haryanto @ Cawan Photo Space

Tulisan oleh Levana Lelev (Mahasiswi Unisba)
Fotografi oleh Ivan Fachrurezha (Mahasiswa IMTelkom)

Pada hari Selasa tanggal 15 Maret 2011, APC Institute telah menyelenggarakan program Photo Rendezvous yang ke-3 dengan tema “Bedah buku Fotografi 64” yang menghadirkan Bapak Goenadi Haryanto sebagai penulis & pembuat buku tersebut. Pak Gun (sebutan akrab beliau), merupakan seorang arsitek & fotografer yang sudah tidak asing lagi namanya dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Beliau telah memberikan banyak sumbangsih bagi kemajuan dunia fotografi, salah satu bentuk dedikasinya tertuang dalam sebuah karya buku yang berjudul “Buku Fotografi 64”. Dimana ada slogan yang menarik di dalam buku tersebut yaitu “Jika engkau memotret, maka engkau adalah kawanku”.

Hujan deras yang mengguyur kota bandung pada waktu sore itu, tidak menurunkan semangat para pecinta fotografi dalam diskusi bedah buku kali ini. Antusiasme para partisipan yang begitu besar untuk dapat berbagi pengetahuan bersama menjadikan kehangatan tersendiri pada ruang kreatif Cawan Photo Space.

Buku ini memang mempunyai keunikan tersendiri yakni selain judul yang berupa angka “64” menjadi sebuah tanda tanya besar bagi para partisipan untuk mengetahui “ada apa dibalik angka 64?”, bagaimana proses dibalik pembuatan buku tersebut ?”, bagaimana proses pemotretan berbagai foto di dalam buku tersebut dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Pembicaraan hangat dimoderatori oleh Kang Galih Sedayu yang mengupas berbagai cerita dibalik pembuatan buku tersebut. Dalam pembicaraan tersebut, beliau mengatakan bahwa buku ini ditulis sebagai suatu ungkapan syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan berbagai kesempatan dan talenta fotografi kepadanya. Sehingga di dalam berbagai kegiatan, beliau “berjumpa” dengan Allah, untuk mengasihi ciptaan – Nya yang tak terbatas itu. Barbagai pengalaman rohani itu beliau sampaikan kepada teman – teman yang mempunyai minat dan kerinduan yang sama. Karena itulah slogan yang beliau pilih adalah “ Jika engkau memotret, engkau adalah kawanku. Menurut beliau, angka 64 menjadi penting karena pertama, buku ini diterbitkan pada hari ulang tahunnya yang ke 64. Kedua, Ada kelompok fotografi di Amerika yang menamai kumpulannya sebagai f:64, yaitu bukaan diagfragma terkecil pada lensa format besar. Ketiga, Pola mengajar yang beliau gunakan dalam kelas fotografi dasar, menggunakan kerangka 6 langkah untuk sukses membuat foto dan 4 sifat dasar cahaya. Keempat, beliau adalah salah satu penggemar The Beatles, tentu lirik lagu “When I am Sixty four” turut berperan sebagai inspirator judul. Kelima, Format pasfoto paspor adalah 4×6 cm, 1946 adalah tahun kelahiran beliau. Jadi pas-lah sudah, apa yang menjadi angka 64 sebagai pilihan.

Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada sebuah pertanyaan yang menarik, yakni pertanyaan yang justru dikeluarkan oleh Pak Gun kepada para partisipan yang hadir. Pak Gun bertanya, “Mari kita Pikirkan, sesudah kita memotret, apa yang kita lakukan setelah itu?”. Berbagai jawaban yang muncul dari para partisipan diantaranya, untuk keperluan sharing, untuk keperluan komersial, sebagai bahan ilustrasi, sebagai materi pameran, hingga terdapat jawaban untuk ditimbun kata mereka. Hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri bagi sebagian fotografer. Menurut pak Gun, hal tersebut tidak lah salah namun alangkah lebih baik apabila kita dapat membuat sebuah Buku Fotografi. Karena hal ini akan menjadi sesuatu yang unik dan berharga dimana kita dapat berbagi pengetahuan dan dapat membangun serta membangkitkan semangat fotografi sepanjang masa melalui sebuah buku.

Pak Gun pun mengutarakan berbagai cerita menarik dalam proses pembuatan buku tersebut. Diantaranya kendala dari pembuatan buku tersebut, yaitu keterbatasannya sebagai manusia, seperti keterlibatan fisik, emosi dan pikiran yang tentunya sangat melelahkan. Apalagi pada saat proses pembuatan buku tersebut, Pak Gun sempat mendapat serangan jantung hingga mengharuskan ia menkonsumsi obat setiap hari. Ketika itu beliau sempat berpesan kepada anaknya, bila terjadi sesuatu yang menimpanya karena penyakit jantung, sang anak harus tetap menyelesaikan buku tersebut. Namun setiap kendala tersebut pada akhirnya dapat diselesaikan. Baginya semua seperti air yang mengalir dan semua dapat diselesaikan karena kehendak Sang Pencipta dan rekan – rekan yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar hingga buku tersebut dapat direalisasikan.

Acara bedah buku yang dimulai sejak pukul 15.00 wib tersebut akhirnya berakhir pada pukul 18.00 wib, lebih lama dari waktu yang seharusnya yaitu pukul 17.00 wib. Acara ini diakhiri dengan foto bersama yang menambah kehangatan sore itu. Terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam Program Photo Rendezvous. Sampai jumpa di program yang berikutnya.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: