Kisah Sedih Media Fotografi

http://journalin.multiply.com/journal/item/15/Media_Fotografi_Quo_Vadis

Kisah Sedih Media Fotografi

Oleh Karlina

15 November 2006

Dunia fotografi berduka. Berbagai media fotografi yang muncul menghiasi berpamitan satu per satu. Media fotografi berguguran seperti daun kering yang diserang ganasnya tantangan. Perkembangan dunia fotografi rupanya tidak diikuti dengan cerahnya penjualan media fotografi. Apa yang menjadi penyebabnya?

Perkembangan fotografi menyesuaikan zaman. Sejak zaman dulu manusia berusaha mendokumentasikan peristiwa. Terlihat dengan adanya gambar-gambar pada dinding gua, kulit kayu, kulit binatang, relief, dan lainnya. Kebutuhan untuk mengabadikan peristiwa dapat terwujud dengan kemunculan fotografi. Dunia fotografi di Indonesia boleh bangga. Indonesia hanya membutuh waktu dua tahun untuk mengenal fotografi sejak ditemukan pada 19 Agustus 1939 oleh Louis Jacques Mande Daguerre.

Pergolakan politik Indonesia pata tahun 1998 memunculkan dominasi foto esai dan jurnalistik. Memasuki abad 21, perkembangan teknologi mulai memasyarakat. Kemajuan teknologi menunjang kemajuan peralatan fotografi menuju digital. Olah digital memancing kreativitas fotografer. Masyarakat lebih sadar teknologi. Fotografi memasyarakat dengan kemudahan fasilitas yang ditawarkan kamera digital.

Riadi Rahardja, pemilik sekolah fotografi INOVA, merasa turut berduka karena kematian media fotografi. “Banyak orang yang merasa kehilangan, terutama di daerah yang sulit untuk belajar fotografi,”ujar Riadi. Media fotografi banyak yang bangkrut karena kurang baik dalam menangani bisnis. Market yang ditujukan juga terlalu sempit karena membahas fotografi dasar berarti mengambil market amatir serius yang jumlahnya sangat sedikit.

Jika media fotografi dapat membentuk suatu spesialis mengingat perkembangan media sekarang banyak yang khusus komunitas. Secara prinsip, pemilik media menilai itu peluang bisnis. Misalnya, media kawasan Kelapa Gading di Jakarta. Media berdasarkan kawasan, belum  berdasarkan minat atau hobi. “Sebetulnya media fotografi masih punya peluang,”tegas Riadi. Hanya masalahnya bagaimana menggarap dan menilai siapa yang membutuhkan fotografi.

Urusan iklan harusnya tidak menjadi masalah. Tapi, sering kali medianya sendiri yang membatasi iklan hanya dari pengusaha fotografi saja. Padahal jika seorang mampu membeli kamera digital belasan juta, maka ia mampu membeli barang mahal lainnya. Di sini pemasang iklan mencari celah. Bisa iklan mobil, barang seni, atau lainnya.

Indonesia tidak bisa menghasilkan media yang sangat segmented.Media fotografi Indonesia masih general dan berusaha menjawab semua permasalahan. Literatur fotografi hampir tidak ada. “Jangan-jangan kemampuan menulis hanya sampai fotografi dasar saja,”kata Riadi. Pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan Masyarakat tahun 1983 ini mengeluhkan tidak adanya media fotografi yang mampu memberikan penjelasan detail tentang lighting studio. Peletakan alat studio tidak dijelaskan, hanya diberikan contoh hasil. “Jika ada media fotografi yang bisa membahas hal seperti itu mustinya akan ditelah oleh orang-orang professional,”kata Riadi.

“Minat bacanya masih kurang,”kata Aceng Abdullah, Dosen Fotografi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jurusan Jurnalistik. Orang lebih senang bertanya daripada harus membaca buku untuk mendapat ilmu fotografi.

Masyarakat Indonesia juga kekurangan daya beli sehingga walau tertarik sekalipun tidak mampu membeli media fotografi yang relatif mahal itu. Media fotografi harus banyak berjuang untuk memasyarakatkan fotografi diIndonesia.

Buletin PAF, Sesepuh Media Fotografi

Klub foto amatir berhasil bertahan selama 80 tahun di Indonesia. Eksistensinya pun tidak diragukan karena telah banyak mencetak fotografer andal dengan karya yang mengagungkan. Perhimpunan Amatir Foto (PAF) lahir pada 15 Februari 1924 dari sebuah pertemuan di Hotel Preanger, Bandung. Preanger Amateur Fotograafen Vereeniging, nama awal PAF, menjadi klub foto tertua di Indonesia yang masih aktif. Penggantian namaPreanger Amateur Fotograafen Vereeniging menjadi Perhimpunan Amatir Foto, secara de facto pada tahun 1954 ketika  Indonesia melaksanakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Tapi, secara de jure baru terlaksana tahun 1972.

Prof. C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda lulusanTechnische Hogeschool-Bandoeng (sekarang ITB) yang karyanya antara lainGrand Hotel Preanger (Hotel Preanger), Villa Isola (Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia), Het Sterrewacht Bosscha (Observatori Bosscha, Lembang), Het Gebeo Gebouw (Kantor PLN, Bandung), De Groote Kerk(Gereja GPIB-Bethel), dan De Kathedraal (Jalan Merdeka) merupakan pengurus dan pencipta logo PAF pertama.

Anggota PAF menjadi bagian dari sejarah dengan foto-foto peristiwa keganasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Januari 1950, dengan tokohnya Kapten Westerling. Njoo Swie Goan (alm), anggota PAF, mengabadikan foto Kapten Lembong yang terkapar di jalan sebagai bukti sejarah.

Buletin PAF bermula dari tiga lembar bulletin yang bernama De Lens, yang tanggal terbitnya 10 Maart 1937 (nomor 3) dan Agustus 1937 (nomor 8) berisikan informasi tentang Het Eerste Nederlandsch-Indische Fotosalon(Juli-Agustus 1937) dan rencana Het Tweede Nederlandsch-Indische Fotosalon (25 Juli-2Agustus 1938). Foto yang masuk datang dari Pulau Jawa, Sumatra, Borneo, dan Celebes, bahkan dari luar Hindia Belanda, karena melibatkan peraturan pabean untuk izin masuk karya foto.

Sesepuh fotografi Indonesia, Prof. DR. R.M. Soelarko, menjadi motor penggerak PAF bersama Dr. Ganda Kodyat (alm) dan dibantu Dr. A. Kamarga (alm) selama tahun 1950-an dan paruh awal 1960-an. Generasi penerusnya terdiri atas Leonardi Rustandi (alm), Ir. Iin Hardiono, Ir. Ridwan Gunawan, Dr. J.O. Wuisan, Estian Agustia, dan Drs. Budi Darmawan, menerbitkan Bulletin PAF yang menjadi cikal-bakal Majalah Foto Indonesia, tahun 1969. Majalah Foto Indonesia menyelenggarakan event berjudul Lomba FI 1970, yang mempelopori Salonfoto Indonesia dan Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia pada 30 Desember 1973 di Taman Ismail Marzuki,Jakarta. Majalah Fotografi Indonesia berkembang menjadi MajalahFotomedia di tangan manajemen Kompas-Gramedia Group (1993-2003). Tulisan-tulisan Prof. DR. R.M. Soelarko, Leonardi Rustandi, Dr. A. Kamarga, dan Ir. Iwan Zahar, memperkaya pustaka fotografi lewat media fotografi.

Kepemimpinan PAF kini sudah beralih ke Dedy H. Siswandi.Bulletin PAF merupakan usaha warisan dari kegiatan PAF sebelumnya. Bulletin PAF menjadi sarana komunikasi antar anggota tampak lebih baik dari  mengalami kemajuan bentuk. Produk  yang ditampilkan sudah bermacam-macam. Media fotografi perlu terbuka untuk berbagai macam pemasang iklan, mulai dari Rp 30,000,. Bullein PAF adalah tanda eksistensi PAF di masyarakat fotografiBandung.

Pendanaan tidak lepas sehingga Bulletin PAF sanggup hidup hingga saat itu. Bulletin yang dibagikan secara gratis didanai dari iuran anggota fotografer. Iklan yang muncul merupakan perkembangan dari pendanaan. Iuran anggota PAF hanya Rp 100.000,00 per tahun. Dengan oplah 500 eksemplar, Bulletin PAF menjadi sarana media komunikasi anara anggota aktif dan pasif sehingga nilainya tinggi.

Bulletin PAF juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Tahun 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia Bulletin PAF terkena imbasnya. Bulletin PAF berhenti beredar. Molojaknya harga kertas menyebabkan Bulletin PAF hanya mampu hadir dalam bentuk newsletter pada tahun 2001-2002. Tapi, setelah memasuki tahun 2004 dibuat bulletin yang lebih baik.

Karakteristik kegiatan PAF merupakan wadah para amatir yang tidak berprofesi, tapi hobi fotografi, ada yang jobless yang akhirnya menjadi fotografer dan membuat media fotografi. Dalam menjaga komunikasi, PAF juga memiliki milis Bandung PAF. Namun, tidak semua bisa mengakses karena tidak aktif menggunakan internet. Pertemuan rutin setiap bulan di sekretariat PAF dan di sana dapat melihat papan komunikasi yang ada.

Jika ingin membandingkan, media fotografi di luar negri lebih spesifik daripada media fotografi di Indonesia. Misalnya, ada yang hanya berisikan perkembangan peralatan. Perkembangan teknologi digital juga dinilai menarik. Teknik konvensional kadang mencapai titik jemu karena bahannya kurang berkembang. “Segmen fotografi dasar itu selalu ada,”kata Dedy H. Siswandi. Fotografi dasar harus tetap menjadi sisipan dalam media fotografi Indonesia.

Indonesia lama untuk mencapai tahap spesifikasi media fotografi. Di luar negri bisa berkembang majalah-majalah yang terspesialisasi seperti fotografi outdoor, alat, binatang, dan lainnya. Bisnis media fotografi di luar negri bisa subur karena memang banyak pembelinya. Bahkan, orang yang tidak tertarik dengan fotografi juga membelinya karena menarik.

Konsep Bulletin PAF juga general sama seperti media fotografi lainnya. Seperti biasa karena untuk menjawab kebutuhan banyak pihak. Pembahasan berita utama biasanya tentang kegiatan yang aktual, info-info kegiatan dan lomba merupakan yang paling digemari. Galeri yang diletakkan di tengah majalah harus ada untuk mencirikan Bulletin PAF sebagai media fotografi.Galeri foto diambil dari pemenang-pemenang loba foto bulanan. Topik lepas dalam Bulletin PAF merupakan artikel kiriman anggota yang berisikan cerita tentang perjalanan ke tempat tertentu untuk hunting foto. Bahan info tentang teknis digital, konvensional, kamar gelap diambil dari majalah luar negri atau kiriman artikel dari anggota PAF.

PAF tidak membahas content foto karena foto-fotonya lebih menganutgaya salon foto¾foto yang mengutamakan kecantikan penampilan dan teknis kamera¾ tidak seperti foto jurnalistik. Bulletin PAF sempat menuliskan tentang fotografi sebagai seni. Namun, jangkauannya jadi terlalu luas. Pembacanya sendiri lebih menggemari pembahasan teknis kamera dalam pemotretan. Dalam penjuarian foto bulanan PAF lebih mengutamakan ide atau kreativitas, komposisi dan mutu cetak. Misalnya, sala satu kaya foto Dedy yang diambil tahun 2000 dengan teknis ditigal. Hal itu dinilai menarik karena temanya waktu itu tidak umum.

Ketika Fotomedia ditutup, banyak anggota PAF yang berduka. Akhirnya, mereka memilih media fotografi. Majalah lebih mudah dinikmati karena bisa dibaca sambil tidur-tiduran. Berbeda halnya dengan internet yang menyita waktu untuk duduk di depan komputer. Tapi, situs fotografi memudahkan orang untuk mengakses ilmu fotografi, seperti website fotografer.net. Fotografer juga lebih berani memamerkan hasil karyanya karena hanya tinggal mengupload foto.

Tulisan sangat diperlukan dalam menjelaskan ide sebuah foto. Kepala fotografer dipenuhi oleh gambar sehingga kemampuan menulis kurang. “Foto bisa bicara, tapi bisa diperkuat dengan tulisan,”kata Dedy. Dengan menulis, konsep foto bisa tersampaikan. “Harus punya kemampuan verbal, baik menulis maupun lisan. Tidak hanya bisa memotret,”menurut Dedy.

Kematian media fotografi dapat disebabkan masalah komersil. Tapi, mungkin tidak direspon oleh masyarakat karena isinya kurang menarik. Segmen fotografi sangat sempit. Tapi, sekarang fotografi mulai memasyarakat lewat kamera digital. PAF juga berusaha memasyarakatkan fotografi dengan lomba Rally Foto yang bekerjasama dengan Fujifilm. Rally Foto lebih menekankan bukan pada sisi teknis pemotretan, tapi menjawab soal yang diberikan dengan gambar. “Itu salah satu cara untuk menggairahkan fotografi di masyarakat. Jika masyarakat terus-menerus dijejali media fotografi, mungkin akan bertambah komunitasnya,”kata Dedy.

Fotografi sebagai dunia seni memang tidak pernah usai. Kita tidak akan pernah usai mencari ilmu. Setiap foto memiliki psoses kreativitas. “Saya melihat majalah-majalah lama. Karena di kepala saya sudah ada konsep dan tujuan, begitu melihat foto saya terinspirasi. Inspirasi bisa datang dari mana saja,”kata Dedy. Tapi, tidak hanya berhenti di situ saja. Proses akhir harus tetap “eksekusi” dengan mencari objek yang akan difoto. “Biasanya trigger ide-ide muncul dari majalah-majalah,”kata Dedy.

Seorang pelukis dalam mencari ide sebelumnya melakukan kontemplasi. Pelukis itu bisa terinspirasi dari novel atau yang lain. Banya cara untuk mendapatkan ide. Perbedaan fotografer dengan pelukis terletak pada eksekusinya. Pelukis tinggal menuangkan idenya dalam kanvas, sedangkan fotografer harus terus mencari posisi akhir eksekusinya.

Teknis dalam media fotografi sangat diperlukan. Tapi, media fotografi harus memunculkan inspirasi baik dari tulisan maupun teknis.”Saya sampai sekarang punya ide, tapi tidak dapat dieksekusi karena kemampuan teknis saya kurang,”kata Dedy. Setiap fotografer memerlukan kehadiran media fotografi untuk mengapresiasi banyak foto untuk mengasah kemampuan. Mungkin, hal ini yang dapat menjadi celah untuk media fotografi yang hidup nanti. Semoga masih banyak cara untuk menghidupkan kembali media fotografi yang sudah mati.

Menelusuri Jejak Media Fotografi Indonesia

Media fotografi hadir menghiasi dunia fotografi sebagai media pembelajaran. Banyak fotografer yang mengalami metamorfosa dari ketidaktahuan hingga mencapai tahap professional. Tapi media fotografi harus bicara pada khalayak pembaca yang beragam. Pilihan yang muncul menjadi kendala di kemudian hari. Apakah kebutuhan semua khalayak fotografi harus disajikan dalam satu media? Hal ini berakibat media fotografi seakan ingin berlomba menjawab semua segmen. Tapi, pada akhirnya tidak semua segmen merasa terpuaskan.

Perkembangan media fotografi mengalami banyak rintangan. Baik yang muncul dari pembaca, maupun kendala manajemen. Tapi, mengapa sebuah media bisa mati? Kematian media fotografi pun tidak hanya terjadi pada satu penerbit. Media fotografi berguguran satu per satu. Jumlah yang berduka tidak sanggup menahan oplah yang tidak pernah bergeming. Ada apa dengan media fotografi.

Demi menjawab hal tersebut, penulis, Karlina Octaviany mewawancara Galih Sedayu, pekan lalu di Jonas Foto. Pria lulusan Manajemen Industri Universitas Jendral A. Yani ini tergabung dalam Persatuan Amatir Foto, Persatuan Fotografer Indonesia, Komunitas Pemotret Bandung, dan klub fotografi lainnya. Berikut petikan wawancaranya:

Apa saja media fotografi yang Anda ketahui?

Fotografi itu dunia yang luas. Jika bicara tentang media, berarti suatu wadah. Media fotografi yang berkembang di Bandung ada Fotoklik, Fotomedia, dan yang masih aktif Fotoplus. Dulu, Darwis Triadi membuat media fotografi A,walaupun kemuadian mati.  Bulletin PAF yang dibuat secara rutin untuk intern anggota PAF dan dibagikan secara gratis. Dulu, Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di Jakarta mengeluarkan Fantasma dengan spirit jurnalistik. Hanya keluar beberapa edisi karena terhambat masalah dana sehingga akhirnya ditutup. Media fotografi berupa majalah yaitu Fotoklik dengan Prestige Foto Studio sebagai pengurusnya. Tapi, mati juga sehingga menyisakan sepenggal kecil media fotografi yang lahir dalam bentuk bulletin.

Apa yang menyebabkan media fotografi tersebut mati?

Berdasarkan penafsiran saya, orang membangun fondasi dari atas sehingga tidak kontinyu. Tidak hanya memerlukan spirit untuk menjadi pionir. Tetap diperlukan dana. Coba lihat bulletin PAF sebenarnya bentuk sederhana. Kita usahakan dengan swadaya pun bisa terealisasi. Tapi, untuk media fotografi yang eksklusif mengalami jatuh-bangun karena harus menghidupi karyawannya, dan membiayai percetakan. Jika tidak didukung dengan kemampuan manajemen dan dana, pasti mati. Ada juga media fotografi yang spesialiswedding, bernama My Perfect Wedding. Saat ini telah keluar dua edisi. Kita tunggu sampai berapa lama mereka bertahan? Saya hanya bisa mendukung.

Dalam membangun media fotografi, Apakah kemampuan fotografer harus bersinergi dengan kemampuan menulis?

Tergantung visi dan misi media fotografi itu. Misalnya, bulletin PAF yang berisikan karya-karya fotografer, kegiatan fotografi di Bandung, hunting foto, dan lainnya. Jika Anda melihat media fotografi Fantasma, memang diperlukan kemampuan menulis seperti jurnalis. Karena terdapat foto dan katerangan foto (caption photo).

Bagaimana tanggapan Anda tentang penyeragaman nilai foto dari sisi teknis dan mengabaikan makna foto?

Dalam Fotomedia terdapat rubrik tentang pengambilan teknis. Jika Anda mengirimkan foto ke sana harus dilengkapi dengan data teknis seperti ISO,shutter speed, diafragma, dan lainnya. Tergantung segmen. Jika untuk pemula masih “masuk” karena pemula wajib tahu tentang teknis kamera. Tapi, untuk level tertentu sudah tidak diperlukan teknik, lebih ke content terutama dalam duania jurnalistik. Data teknis dapat diabaikan dengan asumsi bahwa fotografer sudah mengerti teknis, tapi yang penting content. Apakah Anda pernah mendengar fotografer Kevin Carter? Dia memotret anak kecil Somalia yang sedang mengambil makanan. Namun, ketika itu anak tersebut jatuh dan di belakangnya terdapat burung Nazar. Foto itu mendapat Pulitzer, tapi fotografernya mendapat kecaman masyarakat. Karena tidak tahan akhirnya fotografer itu bunuh diri. Ironisnya, anak yang jatuh itu tetap hidup. Foto jurnalistik tidak lagi membahas hal teknis, tapi bagaimana foto membawa pesan.

Mengapa media fotografi selalu membahas fotografi dasar?

Mungkin karena pendidikan fotografi di Indonesia tertinggal jauh dengan Eropa. Alat-alat fotografi juga ketinggalan 10 tahun.Jika di sana levelnya sudahadvance, di sini terus membahas fotografi dasar. Mungkin karena kultur orang Indonesia lebih lama menyerap ilmu fotografi dasar atau pengetahuan orang-orang hanya sampai dasar saja. Hal ini mungkin menyebabkan munculnya sekolah-sekolah fotografi atau kursus yang mengkhususkan diri pada fotografi dasar. Tapi, untuk level advance sebaiknya menimba ilmu lebih tinggi lagi. Makanya, banyak yang memilih belajar ke luar negri atau dengan otodidak. Banyak yang belajar dari buku-buku fotografi yang banyak beredar.

Menurut Anda, lebih efektif mana belajar lewat buku atau majalah?

Sama saja. Tapi, majalah memiliki keterbatasan media. Buku dapat membahas permasalahan dari awal sampai akhir. Kita tinggal menilai secara sistematis. Majalah membahas per edisi pengenalan kamera, berikutnya foto outdoor.Jika harus memilih, saya pilih buku.

Apakah ada korelasi antara kurangnya minat mendalami fotografi dengan matinya media fotografi?

Berdasarkan pengalaman, ada segelintir orang yang mempelajari fotografi karena keharusan untuk makan. Jadi, hanya bisa motret dan dari hasil itu mendapatkan uang. Tapi, ada orang yang ingin mempelajari lebih dalam sampai dikatakan fotografer professional sehingga ilmu fotografi digali lebih dalam. Ada yang ketika belajar fotografi dasar merasa tidak tertarik dan memilih membuka lab cuci-cetak. Ada yang memilih menjadi dosen. Dunia fotografi itu cakupannya luas sehingga pilihan orang terhadap aplikasi ilmunya itu berbeda-beda.

Jika fotografer terspesialisasi, apakah media fotografi juga akan terspesialisasi?

Bahkan ada sub-subnya. Misalnya kebutuhan akan fotografer fashion. Kebutuhan akan menjadi fotografer fashion yang cirri khasnya ekstrem, pictorial, kontemporal atau eksperimental. Suatu saat pasti akan ada kebutuhan seperti itu, tapi masih lama. Apalagi di Indonesia baru ada fotografer spesialiswedding atau portrait.

Apakah situs fotografi mempengaruhi penjualan media fotografi?

Pasti sedikit-banyak berpengaruh. Tapi, media fotografi dalam bentuk cetak sangat diperlukan. Berdasarkan pengalaman, fotografer atau pelaku bisnis perlu informasi tentang produk baru, bisnis yang lagi in, atau tentang teknis. Karena saya bergabung denan beberapa komunitas fotografi, saya tahu bahwa teman-teman fotografer lebih mudah mengakses informasi dengan membaca daripadabrowsing.

Apa penyebab kematian media fotografi secara keseluruhan?

Saya melihat, pertama pasar harus dicreate. Tidak ada yang memelihara komunitas. Setelah Fotomedia tidak ada muncul situs-situs internet seperti Fotografer. Net. Hal ini membuktikan bahwa mereka perlu komunitas. Media fotografi seperti Fotomedia, Fotoklik, dan lain-lain tidak menjaga komunitas pembaca. Kedua, untuk masalah modal tergantung pelaku bisnis. Tapi, yang penting rasa loyalitas muncul dari komunitas pembaca. Apabila dijaga dan dipelihara mereka aka loyal untuk terus membeli.

Segmen pembaca mana yang Anda nilai komersial?

Kesulitannya di Bandung belum merata. Di Jakarta mulai merata antara fotografer komersial, wedding, dan potrait. Saya melihat Bandung banyak yang bergelut di bidang wedding, banyak yang cenderung ke arah sana. Pada saat ingin berkerativitas mereka butuh wadah atau media yang menambah kemampuan mereka. Tidak perlu takut karena konsumen, pasti banyak yang membeli.

Harapan Anda terhadap media fotografi?

Pertama, fotografer senang jika karyanya medapat publisitas. Jika ada satu media bisa berisi tentang kara-karya fotografer. Tidak usah membahas teknis terus, tapi apa yang disampaikan oleh foto. Bisa juga tentang info produk. Timbul kebosanan karena pembahasan selalu fotografi dasar. 

Akhir Tragis Media Fotografi

Sebuah kisah bahagia muncul ketika media fotografi tampak menjamur. Semua berpikir media fotografi adalah pangsa pasar yang komersial. Kemudian, media-media itu disadarkan oleh kejatuhan oplahnya. Euphoria itu langsung berhenti. Media fotografi terseret oleh defisit anggaran yang membebani mereka. Ada yang bertahan, tapi banyak yang tumbang.

Kematian media fotografi saling menyusul. Menyisakan luka yang mendalam bagi yang mengenalnya. Begitu banyak yang berduka, tapi tidak mampu mengubah kenyataan. Media fotografi dinilai sebagai media yang tidak mendatangkan profit. Berbagai cara sudah ditempuh oleh media fotografi untuk menaikkan pamornya. Penulis artikel dipilih orang-orang yag senior di bidang fotografi, mengikuti tren fotografi, dan banyak lagi cara.

Jumlah pemilik kamera di Indonesia yang cukup besar, mencapai jutaan. Sayangnya dari angka itu yang ingin mendalami ilmu fotografi tidak sampai 5%. Berbagai langkah telah ditempuh, tapi tidak membawa langit cerah pada media fotografi. Apakah kesalahan media fotografi?

Handoyo, mantan pemilik media fotografi, Fotoklik, mengungkapkan alasan penutupan media itu. Fotoklik beredar tahun Januari 2001. Terbit sebanyak 3000-5000 eksemplar. Pria lulusan Seni Rupa ITB ini pada awalnya mencita-citakan untuk berbagi ilmu kepada masyarakat tentang luasnya fotografi dan kemiskinan Indonesia akan ilmunya. “Tapi, tidak ada yang mau mengurus. Jadi, berhenti sekarang,”keluh Handoyo.Awalnya, Handoyo merintis usaha ini karena kecintaannya pada dunia fotografi. Bahkan, pria pemilik Prestige Foto Studio ini berusaha keras mempertahankan Fotoklik di tengah kerugian yang dideritanya.

Bahan untuk isi Fotoklik disadur dari internet dan menerjemahkan media luar negri. Tapi, untuk melakukan penerjemahan harus memiliki dasar fotografi yang kuat karena banyaknya istilah fotografi. Handoyo pernah mempekerjakan lulusan Sastra Inggris Universitas Maranatha. Hasilnya sangat mengecewakan. Bahasa yang digunakan sangat kaku sehingga tidak enak dibaca.  Fotoklik menangani semua segmen fotografi, baik yang professional, maupun pemula. Dengan berbekal tiga orang pengurus, Fotoklik hanya mampu bertahan tujuh edisi.

Proses pembuatannya sangat menguras waktu. “Sampai tidak tidur,”keluh Handoyo. Kemampuan utnuk menulis ulang nyatanya tidak mudah. Menerjemahkan artikel-artikel berbahasa Inggris membutuhkan proses yang lama. Mulai dari penerjemahan, editing, print ulang, bikin film, koreksi lagi,approve cetak, koreksi, baru dicetak. Tapi, tetap saja banyak yang terlewat seperti penulisan merk. Handoyo pernah mengalami peristiwa tidak menyenangkan karena review yang ditulisnya tentang kamera Samsung yang kurang baik. Perusahaan Samsung mengamcam menuntutnya karena tulisan Handoyo itu. Setelah dibujuk dengan iklan gratis satu halaman penuh dan berwarna, Samsung tidak berkutik. Tapi, lagi-lagi Handoyo merugi.

Biaya produksi untuk satu majalah mencapai Rp 10.500,00. Kemudian, dijual   Rp 15.000,00. Keuntungan yang didapat dari penjualan satu majalah hanya Rp 4.500,00. Namun, harus mendapat potongan 20% sehingga hanya menyisakan keuntungan            Rp 500,00. Sungguh tragis untuk nasib sebuah majalah hobi eksklusif. “Akhirnya, ini proyek rugi. TekorRp 80 juta,”ujar Handoyo.

Kesulitan yang paling besar dirasakan Handoyo ketika mencari SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkompeten di dunia fotografi. Sedihnya, tidak ada yang bersedia. Pertama, karena banyak menguras waktu. Kedua, kurangnya dedikasi yang tinggi pada dunia fotografi. Banyak orang yang takut karyanya dijiplak jika membagi ilmunya dalam media fotografi. “Ilmu fotografi itu tidak akan bisa dijiplak sebetulnya,”tegas Handoyo.

Handoyo mengeluhkan waktunya yang tersita karena pekerjaannya yang lain, seperti pemilik studio foto, arsitek, dan desain interior. Kadang, Handoyo harus bersedia merelakan Fotoklik yang seharusnya terbit satu bulan sekali molor hingga dua bulan. Sedangkan, media sangat memerlukan kontinuitas. Akibatnya pembaca menjadi malas sehingga penjualan menurun.

Kendala lain yang muncul ketika Handoyo harus mendistribusikannya. Dalam mendistribusikan media harus melakukan survei tempat yang akan memakan biaya besar. Padahal survei sangat bermanfaat untuk mengetahui tempat yang potensial untuk memasarkan media. Akhirnya, hanya bisa mendistribusikan ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya. Sedangkan, kota-kota kecil merupakan potensial market. Seharusnya untuk pemasaran memerlukan sales. Tapi, dengan untung Rp 500,00 tidak mungkin untuk menggaji orang lagi.

Iklan juga menjadi masalah besar. Banyak pemasang iklan yang enggan masuk karena mahalnya harga pemasangan iklan. Tarif untuk satu halaman iklan mencapai Rp 7,5 juta. Para pemasang iklan mundur karena mereka lebih memilih memasang iklan di media dengan jangkauan nasional seperti Kompas.Handoyo membatasi iklan yang masuk harus berkaitan dengan fotografi.

Majalah fotografi di luar negri sukses karena mereka mampu menekan biaya produksi dengan jumlah pemasang iklan yang banyak. Pemasang iklan di Indonesia kurang menghargai majalah fotografi. Misalnya, Nikon¾produsen kamera¾ lebih memilih iklan di koran daripada media fotografi.

Banyak orang Indonesia kurang pengetahuannya di bidang fotografi. Mengapa? Karena miskinnya majalah fotografi dan perkembangan ilmu fotografi sangat miskin. Mungkin karena fotografi masih barang mewah di Indonesia. Karena negara kita berbentuk segitiga dan yang terbanyak kalangan bawah. Akibatnya fotografi tidak bisa dinikmati semua orang. Akhirnya, satu media fotografi gugur.

Mendekati Pasar dengan Wedding

Media fotografi yang spesialis sangat sedikit jumlahnya. Salah satunga adalah majalah Seasons yang konsentrasinya di bidang wedding. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Banyak sponsor yang berdatangan pada media gratis ini. Hadi Lesmana, pemilik majalah Seasons, merasa perlu mendekati pasar dengan hal yang berhubungan langsung dengan mereka. Sehingga pembaca tidak terbatas pada fotografer wedding saja, tapi juga para pengusaha dan orang yang hendak menikah.

Iklan yang masuk dapat dari berbagai aspek, seperti tata rias, gaun,event organizer, katering, dan fotografer. Pengusaha di bidang weddingternyata sangat menjamur di Bandung. Tapi, belum ada media di Bandung yang memfasilitasi mereka untuk berpromosi. Oleh karena itu, Hadi dan teman-temannya memutuskan membuka majalah yang bergerak di bidang wedding. Untuk isi, Hadi lebih memilih dengan sistem kerjasama  yang menguntungkan kedua pihak.

Spesialisasi merupakan hal yang sering dilupakan media fotografi. “Segmentasi mereka tidak kena sehingga masyarakat kurang aware,” kata Hadi. Media fotografi banyak bermunculan dalam wajah yang nyaris sama, mengupas fotografi dasar. Akibatnya, media tidak punya  ciri khas.

Perkembangan media fotografi  seharusnya menampilkan angle yang berbeda sehingga masyarakat tidak bosan. Hampir semua memilih fotgrafi dasar sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang baru.

Dalam menjaga komunitas, Seasons akan memilih segmen pasar dengan meletakkan medianya secara terbatas terutama untuk kalangan menengah ke atas. “Sehingga kita dapat menghajar pasar secar jelas,”ungkap Hadi.

Media fotografi seharusnya sudah mulai berpikir segmented. Jangan ingin menjawab semua kebutuhan sampai tidak ada satu pun yang terpuaskan. Spesialisasi yang dipilih juga harus melihat target market yang ada. Pasar potensial harus segera dibidik sebelum ada yang mengambil duluan. Ingin menjadi perintis atau follower?

Media Fotografi Lemah Menangkap Pasar

.”Kasihan, ”ujar Dudi Sugandi, redaktur foto Pikiran Rakyat (PR),menyayangkan banyaknya media fotografi yang berguguran. Kesalahan terbesar media fotografi pada kelemahan menangkap pasar. PR dulu pernah memberikan sisipan koran tentang fotografi yang bernama Klik. Tanggapan masyarakat sangat positif. Sayangnya, karena krisis moneter PR menguruskan halamannya hingga Klik harus tamat.

Klik lebih berisi tentang wawasan daripada teknis. Sedangkan, media fotografi banyak bergerak di teknis sehingga orang yang sudah memiliki keahlian fotografi malas untuk membeli. Pengelola media harusnya menyediakan orang yang suka menulis dan tertarik di dunia fotografi. “Jika dilandasi rasa suka, sebetulnya tidak masalah,”ungkap Dudi. Pekerjaan sebagai wartawan juga memiliki tingkat stress yang tinggi karena deadline. Tapi, karena mereka suka maka tidak terasa sebagai beban.

Bekal yang diperlukan dalam membuat media fotografi terutama dalam masalah SDM. Dunia fotografi baru dirasakan perlu ketika akan mendokumentasikan perjalanan. Tapi, orang lupa ketika presentasi mereka perlu fotografi, orang asuransi butuh untuk data, penjual properti, dan lainnya.

Perkembangan teknologi membuat dunia fotografi meningkat. Saat fotografi sudah memasyarakat, media fotografi sudah tidak ada. Media fotografi di sini bisa bertindak untuk mengenalkan dunia fotografi yang bersentuhan langsung dengan pasar. Misalnya, penerangan teknologi tentang kamera handphone yang sedang marak sekarang.

“Syaratnya, bisa membaca pasar sekarang, pasar dunia fotografi ke depannya, dan content fotografi,”kata Dudi tentang syarat yang diperlukan media fotografi. Majalah otomotif yang juga bergerak di bidang hobi bisa lebih sukses karena pembahasannya menyentuh kehidupan sehari-hari. Sedangkan, kebutuhan akan fotografi baru terasa pada momen khusus. Tapi, sekarang fotografi sudah menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kemunculanhandphone kamera. Media fotografi harusnya menangkap pasar yang dekat di hati masyarakat, bukan secara eksklusif.

Media fotografi bisa bergerak di bidang yang dekat dengan kehidupan, terutama fotografi digital. Banyak orang yang hanya tahu memakai, tapi tidak tahu fungsi kamera. Media fotografi harus dapat mengenalkan fungsi-fungsi itu. Misalnya, seseorang tahu jika dengan diafragma 5,6 hasil foto dalam kondisi yang sama akan bagus. Tapi, ia tidak mengerti mengapa diafragmanya harus 5,6.

Orang dulu berpikir untuk suka dunia fotografi karena hobi yang mahal. Misalnya, biaya kamera, film, cuci-cetak, dan lainnya. Jika suka pun mereka terus berpikir untuk balik-modalnya nanti. Akhirnya, fotografi kurang diminati karena dinilai terlalu eksklusif. Profesi fotografer juga belum dapat menjadi penghidupan. Misalnya, di PAF (Perhimpunan Amtir Foto) banyak yang suka fotografi. Tapi, menjadikan fotografi sebagai bagian dari hidup, bukan profesi.

Media fotografi kurang mampu membaca pasar dengan terus-menerus menampilkan fotografi dasar. Orang cenderung bosan karena hampir semua membahas hal yang sama. “Harus ada yang dimunculkan secara kreatif,”kata Dudi. Seharusnya

fotografi menangkap hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, untuk kamera handphone dengan kemampuan megapixel yang ada mampu hingga perbesaran 4R.

Kemunculan situs fotografi dinilai Dudi sangat berpengaruh. “Sekarang orang bisa lebih belajar sendiri,”ungkapnya. Dulu, jika ingin otodidak harus banyak bertanya, membeli buku fotografi yang mahal, dan mengikuti seminar fotografi. Sekarang, ilmu fotografi lebih mudah diakses dari internet.

Media fotografi diperlukan untuk menambah pengetahuan. Fotografi dasar lebih cepat diserap dengan digital karena langsung dapat menilai hasilnya.  Lewat foto-fotonya di Pikiran Rakyat, Dudi mengharap masyarakat lebih tertarik dengan dunia fotografi. Misalnya, PR Minggu banyak memuat karya foto dengan teknis tertentu.”Orang akan terbiasa melihat foto-foto yang aneh,”kata Dudi. Suarat kabar memberikan pembelajaran pada masyarakat.

Perkembangan digital mengembangkan fotografi sehingga memasyarakat. Sudah saatnya, media fotografi mulai bangkit dari ketakutan akan kegagalan masa lalu. Masyarakat kini sudah mulai bergerak maju. Tinggal tunggu saja kapan media fotografi akan maju.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: