Gapura Hati

Ilustrasi: cuplikan poster Pameran Foto dan Peluncuran Buku “Omar’s Visual Journey”, 5-23 Oktober 2010, GFJA Jl. Antara No. 59 Pasar Baru Jakarta 10710.

Gapura Hati

Oleh Oscar Motuloh

Anak muda berambut hitam ikal itu menggenggam kameranya. Memasukkannya ke dalam ransel yang berisi pakaian seadanya. Ada sneaker, tshirt warna cerah, notes alamat, dan tentu sebentuk buku harian yang selalu menemani dalam perjalanannya. Dia. Omar Taraki Niode namanya, merogoh ransel kesayangannya dan meraba-raba isinya. Sebentuk senyum mengembang, melenyapkan kerenyit di dahinya yang berpeluh. Omar menemukan rekan perjalanannya. “Lonely Planet India” dalam genggamannya.

Matahari menyengat ketika dia sampai di kawasan wisata budaya, Taj Mahal, di Agra. Omar sengaja memilih perjalanan ke India Utara itu dalam periode low-season. Dengan modal 600 dolar AS, dia nekat melakukan perjalanan seorang diri. Barangkali suasana pasifis di tempat kuliahnya di University of California membuatnya agak jenuh dan membangkitkan keinginannya untuk bertualang. Maka perjalanan tiga pekan ini di beberapa lokasi, barangkali, akan membuatnya, nanti, seperti baterai yang baru di-charge.

Goresan pena dalam buku harian itu, dan sejumlah memori visual yang terekam kameranya seperti menyiratkan suatu kekuatan naif fotografi dalam menyingkap waktu-waktu yang berlalu. Menceritakan kisah-kisah pribadi yang sangat ekspresif di suatu bulan dalam tahun 2006. Meskipun Omar bukan seorang penyair macam orang-orang ternama, atau fotografer masyur yang dielukan-elukan orang banyak. Namun karya yang dibuat dari jiwa terdalam insan manusia tetaplah suatu bentuk persembahan yang selalu mampu menyentuh kalbu terdalam dari sanubari manusia.

Lupakan sastrawan mbeling era generasi bunga, Jack Kerouac (1922-1969), yang melakukan perjalanan seperti karyanya, “Lonesome Traveler” dan kemudian mati muda. Singkirkan karya Richard Avedon (1923-2004) fotografer portraiture yang sangat berpengaruh dalam dekade-dekade sebelum dia berpulang. Mereka tadi sesungguhnya melakukan sentuhan-sentuhan dasar seperti juga yang dilakukan mahasiswa awam seperti Omar. Dia mencatat semua dari hatinya. Menuliskannya, atau menekankan shutter kameranya untuk dapat kita nikmati.

Catatan visual Omar yang sedang kita simak ini, hakekatnya adalah sebentuk suara jiwa dalam kesendiriannya. Coba kita simak foto tanah gersang dan kambing-kambing di tepian monumen cinta Taj Mahal. Atau juga interior taksi yang merefleksikan sejumlah pantulan-pantulan berkilau di kawasan akar rumput khas Kolkata. Beberapa detil candi, dan juga tekstur-tekstur dari suatu catatan sejarah yang menyentuh hatinya.

Guratan tinta yang tertera dalam sebentuk buku tulis butut biru yang dia cintai ini adalah seruannya, penyesalan khas anak muda, kerinduannya pada keluarga, sahabat dan kekasih. Karenanya paduan yang dilihatnya, dan tulisan yang dirasakannya, seremeh temehnya, tetaplah suatu karya menarik untuk bisa kita nikmati dengan penuh perasaan. Untuk dapat kita renungkan sebagai suatu perjalanan jiwa bagi siapapun yang menyimaknya.

Semangat kemudaan, spontanitas, impulsif, pengetahuan, minat pada sejarah dan hasrat hatinya tentulah menjadi semacam buluh perindu yang bisa kita bayangkan sebagai kita. Pada perspektif kita, yang melihat dunia melalui mata dan hati. Bukankah kesaling-pengertian selalu berawal dari interaksi yang dimulai dari rasa kesederajatan dan persaudaraan?

Anak muda yang amat gemar melakukan perjalanan, di waktu senggang kuliahnya, tampaknya ditakdirkan tak harus melanjutkan catatan harian dan klik kameranya. Dia harus berpulang ke Ilahi pada usia belia (25 tahun), di awal 2009. Membuat SMU Robert Louis Stevenson di San Francisco tempatnya menempuh pendidikan sebelum melanjutkan belajar di perguruan tinggi, seperti membangkitkan dirinya melakukan perjalanan dengan Robinson Crusoe, tokoh petualangan ciptaan Stevenson.

Lalu apa sesungguhnya makna dari kefanaan fisik, yang tak mungkin ditentang suratan-Nya oleh umat manusia? Kecuali, kita percaya bahwa anak-anak muda seperti Omar, yang memiliki catatan jiwa dan rekaman visual dari kamera sebagai lensa pribadinya, sesungguhnya tak akan pernah pergi. Sebab, untuk itulah buku “Omar’s Visual Journey” ini dihadirkan. Ada, sebagai sarana berbagi, perihal suara yang bergelora dari hatinya. Atau, semacam pertanda bahwa jiwanya selalu hadir. Supaya kisah-kisahnya dapat diceritakan.

“There’s always some room for improvisation.”
-Satyajit Ray (1921-1992), sutradara terkemuka India

Oscar Motuloh
Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: