Artikel Berita Acara Photo Ramadhan VI

PENAWARAN LUBANG JARUM, Gathering buka puasa bersama fotografer Bandung, 21 Agustus 2010

Gerimis mengundang, begitulah akhir dari cerita berbagi cerita komunitas, yang sedianya diselenggarakan diluar ruang, akhirnya ditarik dalam ruangan. Apapun yang terjadi, terjadilah; dalam kemasan silaturahmi para hobies, profesional fotografer pada acara Photo Ramadhan, di Puri Suralaya Wedding House jalan Soekarno-Hatta, tanggal 21 Agustus 2010. Acara yang secara konsisten diselenggarakan setahun sekali, kini menginjak tahun ke-enam.

Hampir 100 orang lebih, memadati ruang tengah wedding house ini. Tampak para partisipan tidak saja berasal dari dalam kota Bandung, tetapi ada juga dari luar kota, tersebutlah Jefrey, yang memang sengaja datang dari Merak-Serang, khusus untuk acara ini. Begitu juga dengan beberapa komunitas luar kota lainya; Tasikmalaya, Bogor juga dari komunitas fotografi Sukabumi yang baru tahun ini menggeliat. Bisa dikatakan, memang mereka hendak melihat gerakan fotografi apa yang kini terjadi di kota Bandung.

Tepat pukul 15.00 wib, satu jam mundur dari perkiraan. Memang selain jarak tempuh lokasi penyeleggaraan acara ini cukup menantang, juga karena musim yang kini tidak menentu; musim kemarau basah! Tentu saja, hujan akhirnya menjadi aksesoris acara ini, mau tidak mau pertemuan sharing komunitas ini dilaksanakan di dalam ruang. Setelah pemaparan dari penggemar lensa manual, melalui presentasi komunitas yang diwakili oleh Ujang Ubed, selaku sespuh kelompok ini, kemudian kesempatan berikutnya diberikan kepada koumitas lubang jarum Bandung. Pada kesempatan ini, paparan dipercayakan kepada Julius Tomasowa, yang biasa dipanggil Ulis.

Boleh dikatakan, bagi sebagian partisipan yang hadir mungkin sudah mengetahui, apa itu pinhole. Jadi Ulis terlihat tidak terlalu sulit menjelaskan perkara teknis dalam perakitan kamera lubang jarum. Ia memaparkan bahwa, kamera yang paling hebat didunia adalah kamera buatan sendiri. Sejatinya, memang itulah semangat dari kekuatan lubang jarum; dibuat bukan dibeli. Selanjutnya, Ulis mengajak partisipan menyelami kembali bahwa proses seperti ini adalah bentuk pilihan dari semangat fotografi yang sudah ada. Sebuah proses yang sarat mengandung imajinatif, kreatif dan bentuk apresiasi kreasi dalam berkarya. Tentu saja, yang ia maksud adalah merakit kamera, sekaligus bagaimana caranya melubangi. “Pada prinsipnya, cahaya akan diloloskan melalui lubang kecil, kemudian diproyeksikan dan direkam oleh kertas foto” paparnya.

Antusias pengunjung terbukti. Dua orang teman dari komunitas fotografi Sukabumi, diataranya Bobby, langsung menyatakan keinginannya memboyong lubang jarum. Begitu banyak pertanyaan dilontarkan, terlihat haus akan informasi, bahkan ia meminta jenis kamera yang pernah dirakit teman-teman komunitas pinhole di Bandung. “Terima kasih kang, mungkin saya bisa menjelaskan lebih rinci pada teman-teman di Sukabumi” katanya, sambil memegang kamera rakitan pemberian komunitas lubang jarum Bandung. Jelas Ia bermaksud menyebarkan semangat ini pada kawan-kawannya di komunitas di kotanya, yang baru berusia beberapa bulan. Bisa jadi, ia telah menerima tawaran, bahwa lubang jarum turut menggairahkan. Ia sadar bahwa, melalui sebuah lubang kecil, ia hendak menggali potensi kreasi dan apresiasi seni fotografi. Mari kita tunggu tanggal mainya! (denisugandi@gmail.com)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: