Artikel Lepas Liputan Merdeka Dalam Bahaya

Dua orang berjaket kulit tampat menguntit dari kejauhan, pada akhirnya memberanikan diri bertanya pada kerumunan lintas komunitas fotografi, yang sedang silaturahmi di Braga bawah. “Apakah ini pentas teatrikal? Ada rencana bergerak kemana?” tanya seorang berwajah agak gelap. Tentu saja mudah ditebak, mereka adalah Intelkam Kepolisian Daerah Jawa Barat, yang memang tugasnya adalah mendeteksi potensi gangguan keamanan secara dini yang bersumber dari kerumunan massa. Merdeka dalam bahaya!

Pagi, pukul 08.30 WIB, Otoy sang pemilik cetak kilat, adfruk foto satu-satunya di Bandung, nampak terkaget-kaget. Bukan lantaran ketiban rejeki, melainkan kunjungan komunitas pengguna film yang tiba-tiba datang. Kios mungil cetak pas foto kilat ini (lihat artikel: http://denisugandi.blogspot.com/2010/02/lebih-cepat-dari-cahaya-jasa-cetak-pas.html) adalah artefak, tinggal satu-satunya yang masih beroperasi di depan kantor Pos Bandung. Kunjungan komunitas pengguna film, setidaknya memberikan dukungan, bahwa proses tradisional ini belum mau mati.

Pengumuman lewat jejaring sosial memang sangatlah ampuh. Terhitung lebih dari 50 orang yang hadir, siap menyikapi tujuh belasan dengan caranya sendiri. Adalah komunitas toys camera yang biasa disebut komunitas Klastic, hadir lengkap dengan seluruh anggotanya. Kemudian komunitas penggemar kamera rakitan tanpa lensa-Pinhole Bandung (KLJI Bandung & Kampi), komunitas lensa manual, Air Photography Communications, Bidik-Inova, Postography/komunitas fotografi di kalangan pegawai kantor Pos (pa Agus), Paguyuban Analog dan Kamera Kolot/Panakol dan komunitas fotografi lainya, yang turut melengkapi rombongan hunting bersama ini. Start di tempat pa Otoy, kios cetak foto yang biasa mangkal di depan kantor Pos Kosambi, kemudian mulai bergerak menyusuri pusat perbelanjaan pasar Kosambi. Beberap teman-teman begitu antusias, merekam segala peristiwa yang unik melalui lubang bidik kameranya. Begitu juga Wili, mulai sibuk membidik dengan kamera rakitannya. Berbeda dengan pa Oeke, seorang ahli Radiography-xray untuk uji perangkat pesawat terbang, yang nekat melakukan pemotretan dengan menggunakan kamera rakitan lubang jarum, ditengah-tengah jalan Kosambi yang sangat ramai. “Saya selalu penasaran” katanya enteng. Saya menduga, mungkin pa Oeke ingin menyampaikan pesan antusiasnya, bahwa Komunitas Lubang Jarum Indonesia, kini merayakan ulang tahunnya yang ke-8, bertepatan dengan lahirnya republik ini.

Teman-teman klastic pun antusias meraba setiap jengkal jajanan dan potret jasa penjual sepanjang jalan di depan gedung Rumentang siang. Tema, Dony dan lainya dari Klastic, nampak begitu “ciamik” memotret kiri-kanan, seputaran depan gedung Rumentang Siang. Meskipun kemeriahan tujuh belasan, tidak seramai bulan lalu yang jatuh bukan pada bulan puasa, namun semuanya turut menyikapinya dengan mendokumentasikan segala aktifitas yang ditemui sepanjang jalan raya Pos masa Deandels, gubernur Hindia Belanda (1807-1811) yang memerintahkan pembangunan jalan raya Pos, yang mengubungkan pula Jawa dari Barat ke Timur, sejauh kurang lebih 1000 kilometer. Melalui keinginan beliau, maka Bandung lahir di samping sungai Cikapundung.

Katapang dan simpang Lima adalah titik kumpul terakhir, yang kemudian dilanjutkan menuju jalan Asia-Afrika, dan berakhir di titik Nol. Dari sini, semua berkumpul untuk dilanjutkan menuju finish, di Braga bawah, depan Majestic. Memang, diiringi kesibukan memotret, sekaligus merekam artefak jalan raya Pos ini sungguh menyenangkan. Inilah kemampuan fotografi, mengambil kembali detail yang luput dari pengamatan mata, kemudian dimaknai kembali melalui lubang intip.

Cuaca panas itu gosip, ternyata hingga pukul satu siang pun, matahari masih bersembunyi dibalik awan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMG, bulan Agustus ini adalah musim kemarau-basah, istilah yang baru ditemukan tahun ini!, memang aneh. Bagi rombongan “kemarau-basah” menjadi keuntungan besar, tidak berpeluh, karena angin barat turut mendinginkan suasana. Ujung dari petualangan singkat ini berakhir di Braga bawah, lebih tepatnya di depan New Majestic. Di titik inilah, silaturahmi lintas komunitas terjadi. Setelah melepas lelah sejenak, acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian workshop proses film hitam-putih oleh komunitas Pinhole Bandung, yang disampaikan oleh Deni (Pinhole Bandung) dan Tema dari Klastic. Meskipun di luar-ruang, partispan yang berjumlah lebih dari lima puluh orang turut cair, mendengarkan seksama. Info ini sangat berharga, karena proses seperti ini menjadi langka, lab foto penyedia jasa seperti ini kini memasang harga dengan tarif yang sangat tinggi. Beberapa teman-teman Pinhole Bandung, dengan sigap memajang karya hasil rekamannya, digantung menggunakan jepitan jemuran di sepanjang pagar seng Braga bawah. Ini adalah bentuk pernyataan keprihatinan kurangnya ruang apresiasi.

Setelah workshop dan demo proses, kemudian dilanjutkan perkenalan masing-masing komunitas; dimulai dari komunitas Pinhole Bandung, yang diwakili Gilang. Ia menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan dengan menggunakan kamera rakitan, proses develop dan cara memotretnya. Dilanjutkan oleh ketua terpilih secara aklamasi, tokoh fotografi di Bandung, Krisna Satmoko, yang biasa dipanggil Ncis, memaparkan visi-misi Paguyuban Analog dan Kamera Kolot Bandung/PANAKOL, yang berencana untuk merekrut, sekaligus memberikan pilihan bahwa fotografi kini bukan melulu kamera digital. Olah rasa dan feeling itu paling cocok dengan menggunakan film, tutur Ncis.

Acara ditutup oleh teman-teman dari Klastic Bandung. Melalui Razky, informasi apa dan siapa penggemar toys camera ini dipaparkan. Boleh dikatakan, komunitas gaya anak muda Bandung ini selalu memikat, malahan tiga orang siswi cantik pelajar SMU malahan tertarik ingin segera bergabung di komunitas ini. Acara berakhir tepat pukul 13.00 WIB, ditutup foto bersama.

Kebersamaan dan berbagi sangat kental terasa pada kegiatan kali ini. Sejatinya fotografi lahir, memang untuk berkeinginan sebagai bahasa universal, bahasa visual yang mudah dimengerti oleh siapa saja. Dengan demikian, tidak sepantasnya fotografi diklaim menjadi milik golongan tertentu, karena itu tidak memberikan manfaat. Dirgahayu KLJI ke-8 dan dirgahayu RI! (denisugandi@gmail.com)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: