Artikel Lepas tentang Pinhole Bandung @ WALHI

Entah kenapa, pesona lubang jarum itu selalu menarik. Itulah awal perjumpaan teman-teman di WALHI, Lucee volunter dari Amerika, melihat komunitas yang pernah dijumpai pada event Gelar Batik Jawa Barat 2010 ini sangat menarik untuk memeriahkan acara mereka. Kemasannya memang tidak terlalu repot, dari pihak Pinhole Bandung cukup ruang luar, meja dan kursi. Jadilah demo cara perakitan, merekam gambar dan proses di kamar gelap ringkas (baca: personal portable darkroom) hanya hujan lebat yang bisa menghentikan sementara kegiatan komunitas ini.

Waktu memang sangat singkat sekali, yang tersedia dalam rangkaian acara Saung Van Java, yang diselenggarakan oleh WALHI di Pusat Kegiatan Mahasiswa/PKM kampus Universitas Pendidikan Indonesia, jalan Setiabudhi Bandung. Kenapa singkat? Memang tidak sepeti pelaksanaan event sebelumnya, waktu yang tersedia hanya empat jam, terhitung dari pukul 10.00 wib, hingga berakhir pada pukul 14.00 wib. Waktu pendek tersebut memang tidaklah pas untuk menggelar workshop yang lengkap, adalah demo dan pengenalan sajalah yang bisa dilakukan oleh teman-teman di komunitas Pinhole Bandung, yang tergabung dari Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia-Bandung/KLJI Bandung dan kamerapinjaman.com/KAMPI. Seperti biasa, jajaran “karyawan tetap” Pinhole Bandung selalu digawangi Ramdan, Amy, Gilang, Willi, Dede Gondrong, Lala, Rofii, Ugun dan Deni. Mereka dengan senang hati menjelaskan proses perekaman menggunakan metode ini.

WALHI pastilah berhubungan dengan peduli lingkungan. Dalam event kecil ini tentu saja ingin mengingatkan kembali betapa pentinggnya arti konservasi kepada generasi muda. Menyikapi semangat tersebut, lubang jarum sangat pas untuk disandingkan dengan kata-kata pelestarian alam. Ideologi yang dipegang teman-teman lubang jarum adalah membuat (baca: merakit kamera) bukan membeli. Semangat “merakit” ini berarti menggunakan benda atau material yang sudah ada, kemudian tidak digunakan kembali, disebut limbah. Katakanlah kaleng bekas, dus bekas dan sebagainya. Semunya adalah suku cadang material untuk merakit kamera. Jadi pas lah sudah bahwa semangat lubang jarum turut pula mendukung pelestarian lingkungan, dengan cara mendaur ulang limbah.

Melebar sedikit, lubang jarum adalah aktivitas merekam kenyataan, yang kemudian dihadirkan kembali. Itulah bahasa komunikasi visual fotografi. Ada pesan “gambar” yang ditangkap, melalui proyeksi pantulan cahaya pada benda, kemudian direkam pada kertas film. Pesan visual ini, bisa berbicara banyak hal. Bagi lubang jarum, pesan yang disampaikannya bisa juga berupa kampanye pelestarian. Inilah paradoks yang dimaksud, disatu sisi rakitan kamera menggunakan limbah dari hasil produksi kemasan masal (tetrapak membutuhkan 400 tahun untuk bisa didaur ulang dengan sempurna) kemudian dikembalikan kepada mereka (produsen) dalam bentuk pesan pelestarian alam. Tanggung jawab moral inilah yang kiranya turut menjadi agenda penting komunitas lubang jarum, yang telah hadir di Indonesia delapan tahun yang lalu. Lubang jarum sama-sama peduli kelestarian lingkungan. (denisugandi@gmail.com)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: