Pinhole di Indonesia

Menelusuri kembali kapan jenis kamera tidak menggunakan lensa ini digunakan, harus dilihat dari dua periodisasi; masa kolonial, saat fotografi datang di Indonesia dan setelah perang kemerdekaan, memasuki masa fotografi modern, yang ditandai hadirnya kamera 135mm dan film roll seluloid. Pada periode pertama, hingga kini (penulis. Red) belum menemui penggunaan pinhole fotografi sebagai catatan dokumentasi masa Hindia-Belanda. Berbeda dengan periode setelahnya.

Hadirnya fotografi di Indonesia, tahun 1841 yang dibawa oleh seorang pegawai kesehatan Belanda, Jurrian Munich, belum ada bukti bahwa pinhole digunakan untuk kepentingan dokumentasi Hindia-Belanda. Pada saat itu, Munich menggunakan kamera Daguerretype (berlensa) begitu pula, dengan fotografer penggantinya tahun 1844, Adolph Schaefer tidak menggunakan pinhole untuk memotret patung Hindu-Jawa koleksi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshapen (Lembaga kesenian dan ilmu pengetahuan Batavia)

Bila membandingkan dengan penggunaan pinhole sebagai medium ekspresi seni di belahan dunia lain, akhir tahun 1880-an, di Inggris telah lahir gerakan Impressionist yang diilhami oleh pelukis Monet. Terjadi silang pendapat tentang pendekatan kreasi seni fotografi pada masa itu. Golongan lama lebih mementingkan fokus dan detail tajam dari penggunaan lensa, sedangkan pendapat lain, atau disebut genre piktorialis berusaha menangkap gaya lukisan (baca: impresionist) pinhole pun digunakan oleh seorang seniman tahun 1890, yaitu George Davidson dengan karyanya An Old Farmstead, kemudian dinamai The Onion Field. Karya ini mendapatkan penghargaan pada pameran tahunan yang diselenggarakan oleh Photographic Society of London (Beberapa tahun kemudian dikenal dengan Royal Photographic Society) yang kemudian melahirkan seniman-seniman fotografi piktorial. Pinhole fotografi kemudian banyak diminati semenjak tahun 1890-an. Kamera diproduksi dan dijual masal di Eropa, Amerika dan Jepang. Kamera ini laku keras, hingga terjual 4000 kamera di London tahun 1892. Pada masa itu, kamera jenis ini sama dengan kamera sekali pakai.

Memang sangat sulit sekali melacak kembali, apakah pinhole digunakan seniman fotografi awal tahun 1920-an di indonesia. Hingga kini, belum ada penelitian khusus tentang ini. Termasuk satu klub fotografi tua di Indonesia, Preanger Amateur Fotografen Vereeniging, PAF-V. Klub penggemar fotografi pertama di Indonesia adalah Eerste Nederlandsch Indische Amateur Fotografen Vereeniging (ENVIAF) di Jakarta Kota (Harmoni dan sekitarnya, dahulu dikenal dengan kawansan Weltedreven).

Periode berikutnya, setelah pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan, tahun 1954, PAF Bandung hadir kembali, kemudian tahun 1957 di Indonesiakan oleh R.M. Soelarko, menjadi Perhimpunan Amatir Foto.

Pada masa sebelum dan sesudah perang, masa awal kebangkitan kembali PAF, pinhole bukan media ekspresi seni bagi PAF. Bisa diindikasikan dari catatan dalam bulletin PAF semenjak tahun 1957 hingga kini, tidak pernah ada bahasan mengenai pinhole fotografi secara spesifik, baik itu untuk lomba foto bulanan, maupun dalam diskusi klub. Hanya ada satu tulisan saduran khusus yang membahas alternatif fotografi, dibahas oleh alm. R.M Soelarko; tentang photogram. Diduga, pada masa itu pinhole hanya dilakukan secara individu. Hingga pada tahun 1996, sebuah gerakan paguyuban fotografi di Bandung, yang menamai dirinya Forum Fotografi Bandung, belum melirik pinhole sebagai medium alternatif seni fotografi.

Kelahiran Pinhole di Indonesia
Kebangkitan pinhole masa kini, ditandai dengan hadirnya kembali seniman-seniman fotografi, yang menggunakan medium pinhole sebagai media ekspresi seni. Pada pertengahan tahun 1960-an, beberapa seniman dunia mulai melirik kembali penggunaan pinhole. Diantaranya Paolo Gioli dari Italy, Gottfried Jager dari Jerman, David Lebe, Franco Salmoiraghi, Wiley Sanderson dan Eric Renner dari Amerika. Di Indonesia sendiri, pinhole kemungkinan digunakan sebatas eksperimen untuk kebutuhan pribadi saja.

Ray Bachtiar, salah satu seniman fotografi Indonesia, mulai melirik pinhole sebagai medium seni fotografi. Gerakan ini dicetuskan dengan membangun jaringan melalui klub dan penggemar fotografi, yang sebelumnya belum menyukai pinhole. Dari gerakan yang dibangun Ray Bachtiar ini, kemudian dinamai Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJ-I), yang tersebar di 17 kota di Indonesia. Cikal bakal KLJ ini dimulai dari eksperimen media rekam ini sebagai metode edukasi, yang dicoba pada anak-anak SD di Bantar Gebang Bekasi tahun 2001. Pada saat itu didukung oleh Galeri I-see dan bantuan Kedutaan Belanda. Pada bulan September 2001, Ray Bachtiar menerbitkan buku panduan “Memotret dengan Kamera Lubang Jarum” terbitan Puspaswara, yang disusul dengan buku kedua (dalam format majalah) “Ritual Fotografi” terbitan edisi spesial Majalah Foto dan Video Chip Foto Video. Kegiatan berikutnya adalah mendeklarasikan istilah Pinhole dengan Kamera Lubang Jarum (KLJ) disusul dengan “gerilya” workshop non-profit Jawa-Bali hingga Makasar. Tepat tanggal 17 Agustus 2002, mendeklarasikan sepihak, Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) sebagai naungan para pencinta KLJ di Indonesia.

Bila diluar negeri, pinhole merupakan kurikulum wajib yang diajarkan pada akademi maupun jurusan fotografi, Di Indonesia pun telah diupayakan hal yang sama. Kini KLJ telah menjadi kurikulum tetap di ISI-Yogya. Diranah senipun, Ray Bachtiar melalui KLJ-nya mencoba diwacanakan. Bulan September 2002, dengan berkolaborasi seni lukis, tekstil dan teater, KLJ diterima sebagai wacana seni, pada event “Gigir Manuk Multicultural Art Camp” di Bali.

Pinhole di Bandung
Semenjak workshop KLJ pertama di Bandung, tahun 2002 lalu, yang diikuti pula oleh profesional fotografer, pewarta foto, seniman teater, seniman grafis hingga pencinta fotografi di kediaman pendiri Forum Fotografi Bandung, Jirman De Martha, di Lembang Bandung.

Dari workshop inilah, bisa dikatakan tonggak pertama komunitas lubang jarum berdiri di Bandung. Karena dalam bentuk komunitas, relawan yang duduk mengurusi komunitas ini datang dan pergi. Pengurus pertama yang masih setia dari awal hingga kini adalah Deni Sugandi, Julius Tomasowa dan Amy. Kini bergabung Willi, Gilang, Ame dan Kamerapinjaman.com; Rofii, Soge, Gondrong dll.

Seiring tahun berjalan, komunitas inipun mendapat dukungan dari Sekolah fotografi modern Pusat Pelatihan Fotografi Jonas (PPFJ) yang dilahirkan oleh pemilik studio ternama di Bandung, Gunadi H. Selanjutnya, aktifitas pun berlanjut, mulai dari kampus ke kampus, dari workshop mini hingga melibatkan lebih dari 60 orang lebih partisipan. Workshop yang dilakukan pun bersifat pendampingan; diantaranya workshop dua hari bersama Gunadharma-Arsitektur ITB, Arsitektur UNPAR, SMU 25 Bandung, Keluarga Mahasiswa Arsitektur Kridaya UPI dan Enlight Learning Center (ELC) di Taman Ganesha Bandung

Beberapa kegiatan rutin telah dilakukan, mulai dari kegiatan hunting bulanan, workshop kecil hingga pameran bersama, baik itu sifatnya pajang karya, maupun digarap serius. Beberapa media, seperti Harian Umum Pikiran Rakyat telah beberapa kali menampilkan komunitas ini sebagai alternatif berkarya melalui apresiasi fotografi di Bandung. Terakhir, liputan PJTV dalam segmen acara Photocholic dan IMTV Bandung. (denisugandi@gmail.com)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: