Archive for the ‘ Artikel Berita Kegiatan ’ Category

Artikel Jumpa Pers Tribute to Nature @ detikBandung

Artikel Jumpa Pers Tribute to Nature @ detikBandung

http://bandung.detik.com/read/2011/04/20/095239/1621476/486/pameran-foto-dan-digital-imaging-dalam-tribute-to-nature

Rabu, 20/04/2011 09:52 WIB
Pameran Foto dan Digital Imaging dalam ‘Tribute to Nature’
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Fotografi dengan segala daya pikatnya secara visual, menjadi sebuah cara lain untuk bercerita tentang isu-isu yang berkaitan dengan alam. Untuk itulah Teh Kotak bekerjasama dengan Telinga Mata Communications dan APC Institute menyuguhkan program ‘Tribute to Nature’.

‘Tribute to Nature’ ini merupakan rangkaian program yang terdiri dari Kompetisi Fotografi dan Digital Imaging, dan ditutup oleh Pameran Fotografi. Kompetisi ini terdiri dari dua kategori, yakni fotografi dan digital imaging yakni karya foto yang sudah di edit dengan photoshop atau program lainnya.

Kompetisi ini sudah berlangsung sejak awal Januari 2011 dengan batas akhir pengiriman karya pada tanggal 18-19 Maret 2011. Pameran karyanya sendiri akan berlangsung pada Jumat (22/4/2011) hingga Minggu (24/4/2011) di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan No 5, Kota Bandung.

“Jumlah foto yang masuk ke panitia sudah ada 1.068 karya. Pesertanya tak hanya dari Bandung saja, dari luar pulau jawa juga ada,” ujar Ketua Panitia ‘Tribute to Nature’, Galih Sedayu, kepada detikbandung.

Dari 1.068 karya tersebut, para dewan juri kemudian memilih 30 buah karya foto yang menjadi finalis kompetisi ini. “Untuk selanjutnya dipilih lima orang dari masing-masing kategori kompetisi. Ada juara kesatu, kedua, ketiga dan dua orang juara harapan,” imbuhnya.

Selain itu, bagi yang ingin mengikuti loma memotret. Bisa mengikuti Kartini Photo Shoot yang berlangsung di halaman GIM, Sabtu (23/4/2011) pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB. Pendaftaran bisa melalui email ke apc_institute@yahoo.com.

Rangkaian acara lainnya yakni Fresh and Green yakni Fashion and Architecture Seminar degan pembicara Nurulita (Fotografer Fesyen) dan Ridwan Kamil (Arsitek dan Fotografer) yang akan digelar pada Sabtu (23/4/2011). Penikmat musik juga bisa menikmati sajian Akustik dari musisi Teman Sebangku, Pidi Baiq and Cozy Street Corner.

Bagi para pengunjung pameran, akan disediakan hadiah berupa dua buah sepeda dan souvenir di penghujung acara.

(avi/bbn)

Catatan Singkat & Liputan “Photo Rendezvous” ke-3

Catatan Singkat & Liputan “Photo Rendezvous” ke-3 : Bedah Buku Fotografi 64 bersama Goenadi Haryanto @ Cawan Photo Space

Tulisan oleh Levana Lelev (Mahasiswi Unisba)
Fotografi oleh Ivan Fachrurezha (Mahasiswa IMTelkom)

Pada hari Selasa tanggal 15 Maret 2011, APC Institute telah menyelenggarakan program Photo Rendezvous yang ke-3 dengan tema “Bedah buku Fotografi 64” yang menghadirkan Bapak Goenadi Haryanto sebagai penulis & pembuat buku tersebut. Pak Gun (sebutan akrab beliau), merupakan seorang arsitek & fotografer yang sudah tidak asing lagi namanya dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Beliau telah memberikan banyak sumbangsih bagi kemajuan dunia fotografi, salah satu bentuk dedikasinya tertuang dalam sebuah karya buku yang berjudul “Buku Fotografi 64”. Dimana ada slogan yang menarik di dalam buku tersebut yaitu “Jika engkau memotret, maka engkau adalah kawanku”.

Hujan deras yang mengguyur kota bandung pada waktu sore itu, tidak menurunkan semangat para pecinta fotografi dalam diskusi bedah buku kali ini. Antusiasme para partisipan yang begitu besar untuk dapat berbagi pengetahuan bersama menjadikan kehangatan tersendiri pada ruang kreatif Cawan Photo Space.

Buku ini memang mempunyai keunikan tersendiri yakni selain judul yang berupa angka “64” menjadi sebuah tanda tanya besar bagi para partisipan untuk mengetahui “ada apa dibalik angka 64?”, bagaimana proses dibalik pembuatan buku tersebut ?”, bagaimana proses pemotretan berbagai foto di dalam buku tersebut dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Pembicaraan hangat dimoderatori oleh Kang Galih Sedayu yang mengupas berbagai cerita dibalik pembuatan buku tersebut. Dalam pembicaraan tersebut, beliau mengatakan bahwa buku ini ditulis sebagai suatu ungkapan syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan berbagai kesempatan dan talenta fotografi kepadanya. Sehingga di dalam berbagai kegiatan, beliau “berjumpa” dengan Allah, untuk mengasihi ciptaan – Nya yang tak terbatas itu. Barbagai pengalaman rohani itu beliau sampaikan kepada teman – teman yang mempunyai minat dan kerinduan yang sama. Karena itulah slogan yang beliau pilih adalah “ Jika engkau memotret, engkau adalah kawanku. Menurut beliau, angka 64 menjadi penting karena pertama, buku ini diterbitkan pada hari ulang tahunnya yang ke 64. Kedua, Ada kelompok fotografi di Amerika yang menamai kumpulannya sebagai f:64, yaitu bukaan diagfragma terkecil pada lensa format besar. Ketiga, Pola mengajar yang beliau gunakan dalam kelas fotografi dasar, menggunakan kerangka 6 langkah untuk sukses membuat foto dan 4 sifat dasar cahaya. Keempat, beliau adalah salah satu penggemar The Beatles, tentu lirik lagu “When I am Sixty four” turut berperan sebagai inspirator judul. Kelima, Format pasfoto paspor adalah 4×6 cm, 1946 adalah tahun kelahiran beliau. Jadi pas-lah sudah, apa yang menjadi angka 64 sebagai pilihan.

Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada sebuah pertanyaan yang menarik, yakni pertanyaan yang justru dikeluarkan oleh Pak Gun kepada para partisipan yang hadir. Pak Gun bertanya, “Mari kita Pikirkan, sesudah kita memotret, apa yang kita lakukan setelah itu?”. Berbagai jawaban yang muncul dari para partisipan diantaranya, untuk keperluan sharing, untuk keperluan komersial, sebagai bahan ilustrasi, sebagai materi pameran, hingga terdapat jawaban untuk ditimbun kata mereka. Hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri bagi sebagian fotografer. Menurut pak Gun, hal tersebut tidak lah salah namun alangkah lebih baik apabila kita dapat membuat sebuah Buku Fotografi. Karena hal ini akan menjadi sesuatu yang unik dan berharga dimana kita dapat berbagi pengetahuan dan dapat membangun serta membangkitkan semangat fotografi sepanjang masa melalui sebuah buku.

Pak Gun pun mengutarakan berbagai cerita menarik dalam proses pembuatan buku tersebut. Diantaranya kendala dari pembuatan buku tersebut, yaitu keterbatasannya sebagai manusia, seperti keterlibatan fisik, emosi dan pikiran yang tentunya sangat melelahkan. Apalagi pada saat proses pembuatan buku tersebut, Pak Gun sempat mendapat serangan jantung hingga mengharuskan ia menkonsumsi obat setiap hari. Ketika itu beliau sempat berpesan kepada anaknya, bila terjadi sesuatu yang menimpanya karena penyakit jantung, sang anak harus tetap menyelesaikan buku tersebut. Namun setiap kendala tersebut pada akhirnya dapat diselesaikan. Baginya semua seperti air yang mengalir dan semua dapat diselesaikan karena kehendak Sang Pencipta dan rekan – rekan yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar hingga buku tersebut dapat direalisasikan.

Acara bedah buku yang dimulai sejak pukul 15.00 wib tersebut akhirnya berakhir pada pukul 18.00 wib, lebih lama dari waktu yang seharusnya yaitu pukul 17.00 wib. Acara ini diakhiri dengan foto bersama yang menambah kehangatan sore itu. Terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam Program Photo Rendezvous. Sampai jumpa di program yang berikutnya.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Kisah Wayan Mertayani yang Menjuarai Lomba Foto Internasional berkat Kamera Pinjaman

Kisah Wayan Mertayani patut diacungi jempol. Meski tak punya kamera, gadis 16 tahun asal Karangasem, Bali, itu berhasil menjuarai lomba foto internasional di Belanda. Mei tahun lalu, dia bahkan diundang ke Negeri Kincir Angin tersebut. Kini, Wayan sedang menunggu hadiah uang yang dijanjikan dengan harapan bisa mengurangi kemiskinan keluarganya. 

———————————————
CHAIRUL AMRI S., Karangasem
———————————————
Siang itu, langit di atas Pantai Bias Lantang tampak mendung. Meski demikian, pantai di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, tersebut terlihat indah dipandang. Di pinggir pantai itu, terdapat sebuah rumah sangat sederhana, berukuran sekitar 3 x 4 meter. Semua dinding rumah tersebut terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan beratap seng. 

Itulah rumah Wayan Mertayani. Sehari-hari, gadis 16 tahun tersebut tinggal bersama ibunya, Ni Nengah Kirep, 45, dan adiknya, Ni Nengah Jati, 13. Untuk menyambung hidup, Kirep beternak ayam yang jumlahnya hanya belasan ekor. Selain itu, dia menjadi pemulung barang-barang bekas. Ketika Radar Bali (Jawa Pos Group) berkunjung ke rumahnya siang itu, Wayan sedang bersiap-siap berangkat sekolah. “Saya sekarang kelas satu SMA,” kata Wayan yang akrab disapa Sepi itu karena lahir pas hari raya Nyepi.

Melihat kehidupan sehari-hari Wayan yang jauh dari kesan berkecukupan, mungkin tak akan pernah ada yang mengira bahwa gadis berwajah manis tersebut menjadi juara lomba foto internasional di Belanda. Tapi, itulah yang terjadi.

Bagaimana ceritanya? Semua itu bermula ketika Wayan berkenalan dengan Mrs Dolly Amarhoseija, turis asal Belanda, Juli 2009. Dari perkenalan tersebut, hubungan mereka kian akrab. Wayan yang sejak kecil bercita-cita menjadi wartawan tertarik pada kamera milik Dolly.

Oleh Dolly, Wayan diajari cara memotret. Selanjutnya, kamera digital itu dipinjamkan Dolly kepada Wayan. Betapa gembiranya Wayan saat itu. Berbekal kamera pinjaman milik Dolly, Wayan memotret sejumlah objek di sekitar rumahnya.

Di antara belasan objek yang dibidik Wayan, ada salah satu objek yang menarik perhatian Dolly yang memang menekuni bidang fotografi tersebut. Objek itu adalah potret pohon ubi karet dengan dahan tanpa daun yang tumbuh di depan rumah Wayan. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan tanpa daun itu. Ada juga handuk merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

Karena dianggap bagus, atas seizin Wayan, foto tersebut dikirim Dolly ke Belanda untuk mengikuti lomba foto internasional 2009 yang dihelat Yayasan Anne Frank. Tak disangka-sangka, hasil jepretan Wayan dengan objek pohon ubi karet dan ayam itu ternyata memikat 12 fotografer dunia dari World Press Photo yang menjadi juri dalam ajang lomba tersebut. Objek yang dibidik Wayan itu pun akhirnya ditetapkan sebagai juara karena dianggap sangat tepat dengan tema dalam lomba tersebut: Apa Harapan Terbesarmu?.

Kabar membanggakan itu diterima Wayan akhir Desember 2009 melalui Merry. Dia adalah pemilik vila Sinar Cinta di Karangasem, Bali, yang juga teman Dolly. Atas prestasi tersebut, Wayan diundang ke Belanda pada 3 Mei lalu untuk menerima langsung hadiah. Yakni, kamera saku digital, laptop, serta uang Rp 40 juta.

Mengapa membidik ayam yang sedang bertengger di pohon ubi karet itu? “Ayam itu adalah simbol diri dan kehidupan keluarga kami. Ayam itu kalau panas kepanasan dan kalau hujan kehujanan. Sama seperti saya,” jawab Wayan. Lebih lanjut, dia menceritakan, meski punya rumah, rumah yang dia tinggali itu tak ideal disebut rumah. “Karena atapnya seng, kalau panas kami kepanasan. Kalau hujan, kami kehujanan. Sebab, atapnya banyak yang bocor,” ceritanya.

Ketika ditanya, apakah ada yang berubah setelah dia berhasil meraih juara bergengsi itu” Wayan hanya tersenyum. “Nggak ada yang berubah. Sama saja seperti dulu. Kami masih tinggal di gubuk ini. Kalau pun ada yang berubah, ya, saya banjir sanjungan, he” he” he?,” kata Wayan dibarengi tawanya yang renyah. Terutama sanjungan dari teman-teman sekolah dan bapak/ibu gurunya.

Wayan mengakui, sejak dia mendapatkan penghargaan dari Yayasan Anne Frank, pandangan orang terhadap keluarganya berubah. Dulu, baik dia maupun ibunya kerap menuai cibiran dari sebagian warga. Meski demikian, apa yang pernah dia raih, rupanya tak membuat Wayan besar kepala. Dia masih tetap menjalani hidupnya seperti sebelum mendapatkan penghargaan. “Tentu saya bersyukur. Tapi, saya juga tidak mau berlebihan,” kata penggemar berat novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini.

Wayan mengatakan, hidup keluarganya memang masih jauh dari berkecukupan. Ayahnya meninggal, sejak Wayan masih balita. Untuk menyambung hidup, ibu Wayan bekerja serabutan. Selain beternak ayam dan menjadi pemulung, sang ibu, Kirep, juga berjualan makanan di tepi pantai. Tapi, untuk aktivitas ini, Kirep mengaku terpaksa berhenti. Itu karena sebulan terakhir ini kesehatannya terganggu. “Ibu saya terkena gangguan ginjal. Sebenarnya sejak 2003 lalu. Tapi, akhir-akhir ini sering kumat,” papar Wayan yang kisah hidupnya telah dibukukan dengan judul  Potret Terindah dari Bali ini.

“Ginjal kanan saya kumat lagi. Kalau angkat yang berat-berat terasa sakit,” ujar Kirep, yang siang itu mendampingi puteri sulungnya. Dengan kondisi seperti itu, Kirep lebih banyak di rumah. Pagi hari dia hanya memulung. Selesai itu, dia pun kembali ke rumah untuk memasak serta mengurus ternak ayam serta kambing yang dia gembalakan di pinggiran pantai.

Dari ternak-ternak itulah, keluarga Kirep melanjutkan hidupnya. Kadang kala, dia terpaksa menjual kambing agar Wayan dan adiknya, Jati, bisa bersekolah. Termasuk, untuk makan sehari-hari bagi keluarganya.

“Seminggu lalu, saya terpaksa menjual ayam. Laku Rp 50 ribu. Kebetulan uang itu untuk biaya sekolah Wayan dan Jati,” katanya. “Tiga minggu lalu saya melepas satu ekor kambing untuk dijual. Soalnya saya sudah bingung cari uang dapur dan uang untuk sekolah anak-anak saya,” tambahnya, dengan kedua mata menerawang.

Saat ini, Wayan sedang menunggu hadiah uang senilai Rp 40 juta yang menjadi haknya atas prestasi yang diperoleh di Belanda. “Uang itu sedang diurus Bu Merry,” kata Wayan, dengan mata berbinar penuh harap. Dia mengatakan, uang itu rencananya untuk membeli tanah, selanjutnya dibangun rumah. Sebab, rumah yang ditempati Wayan saat ini, bukan lah rumahnya sendiri. “Rumah itu bukan milik kami. Kami hanya disuruh menempati oleh orang yang kasihan dengan nasib kami,” tutur Wayan.

Dengan nada bergetar, Wayan menceritakan, bahwa semula dia tinggal di rumah kakek dari ayahnya. Tapi, setelah sang ayah meninggal, tanpa alasan jelas, Kirep, Wayan dan adiknya  yang saat itu masih balita, diusir oleh keluarga sang kakek. Selanjutnya, Wayan tinggal di rumah kakek dari ibunya. Di sini pun, nasib Wayan tak mujur.

Tak berapa lama, Kirep, Wayan dan adiknya juga diusir. Beruntung, dalam kondisi terkatung-katung itu, ada seorang yang iba. Dia adalah pemilik lahan pengeringan garam yang terletak di pinggiran Pantai Bias Lantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Di atas lahan itu, kebetulan ada rumah, dan Kirep diperbolehkan tinggal di sana bersama dua anaknya, sampai sekarang.

Kisah pilu Wayan ini sudah dibukukan dengan judul Potret Terindah dari Bali yang disusun Pande Komang Suryanita. “Saya sangat berharap mendapat royalti dari buku itu. Rencananya akan kami buat tambahan membeli tanah dan membangun rumah,” katanya.(jpnn/kum)

Sumber dari Jawa Pos National Network (JPNN)

Fotografi : Theather of Mind

http://apanamablogkita.blogspot.com/2010/06/fotografi-theatre-of-mind.html

Fotografi : Theather of Mind

Oleh Vannia & Aditya

Pernahkah Anda melihat dalam serial CSI: New York, ada seorang lelaki yang lupa ingatan lalu para dokter mencoba membantu mengembalikan ingatannya dengan beberapa lembar foto? Atau ingatkah Anda di film Harry Potter, setiap foto bisa bergerak seperti sebuah video?
Mungkin yang saya sebutkan diatas memang hanya sebuah film, tetapi percayalah, foto dapat berbuat sejauh mana akal manusia berujung. Setiap foto memiliki theatre of mind¬-nya sendiri. Berbeda dengan istilah theatre of mind¬ yang sering kita dengar dalam istilah penyiaran radio, theatre of mind¬ yang dihasilkan oleh foto dapat bertindak lebih jauh lagi. theatre of mind¬ dari audio hanya menghasilkan gambaran serta imajinasi dari alam pikiran yang mengambang, sehingga ia butuh ilustrasi audio. Sedangkan foto, dengan disajikannya visualisasi yang ditangkap oleh indra penglihatan Anda, Anda dapat segera menyadari dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Selebihnya, theatre of mind¬ Anda menyajikan lanjutan-lanjutan dari visualisasi yang ditangkap melalui foto tersebut. Benar sekali, foto mempunyai seribu makna. Dan juga, tergantung dari bagaimana sudut pandang yang melihat foto tersebut.
The way of seeing. Salah satu hal yang ditekankan oleh Galih Sedayu dari Air Photography saat ia menjadi pembicara dalam acara “Photo Speak: Fotografi sebagai Fungsi Komunikasi”. Sebenarnya, The way of seeing mnjadi hal yang sangat – jauh lebih luas jika batas fotografi disini Anda loncati. Seperti apa?
Saat pertama kali Anda melihat Graha Sanusi, pasti yang terpikirkan oleh Anda adalah sebuah gedung besar yang memiliki acara besar di dalamnya. Dimulailah theatre of mind¬ yang tadi saya sebutkan, tetapi sekarang ia mempunyai bentuk 3 dimensi. Akan tetapi, nyatanya? Gedung besar bernama Graha Sanusi tersebut kosong, alias sepi dari pengunjung. See? Pasti selalu ada persepsi awal dari sebuah the way of seeing dengan realita yang disajikan selanjutnya.
Fotografi, yang menjadi salah satu penangkap maupun pelaku the way of seeing itu sendiri, telah dibuktikan oleh Galih Sedayu pada talkshow-nya di Graha Sanusi. Ia memperlihatkan foto-foto yang membuat gempar dunia, seperti foto anak kecil hitam (lagi) kurus sedang meringkuk dan di belakangnya terdapat burung. Sang fotografer bunuh diri karena amat depresi karena banyak kecaman terhadap foto yang diambilnya tersebut. Ia merasa bersalah karena ‘dipersalahkan’ atas tindakannya yang hanya mengambil foto anak tersebut, bukan menolongnya. Ini juga termasuk the way of seeing, yaitu bagaimana cara menangkap sesuatu dengan pendapat atau opini yang berbeda. Mata kamera hanya mencoba menangkap, tetapi ia tidak bisa mengartikan serta memaknai. Ia berbaik hati menyerahkan semuanya kembali kepada theatre of mind Anda agar Anda dapat menginterpretasikannya sendiri.
Galih pun mengungkapkan bahwa foto juga dianggap sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat. Galih menyebutkan, saat foto karya Joe Rosenthal pada tahun 1945 terkait pengibaran bendera Amerika Serikat di Gunung Suribachi, Iwo Jima, Jepang menginspirasi sutradara Clint Eastwood untuk membuat film yang berjudul Flag Our Father. “Film itu membuktikan bahwa foto dapat menjadi sumber inspirasi bagi sutradara untuk menghasilkan sebuah film,” ujarnya.
Sumber inspirasi seperti apa? Sumber inspirasi yang bisa membuat orang tahu; menyadari, bahkan sampai ke tingkat persuasif hingga dapat memunculkan reaksi-reaksi berupa tindakan. Artinya, foto dapat menjadi media yang sangat baik dalam penyampaian suatu pesan. Hal ini bertitik balik pada Komunikasi Visual, di mana apa yang dilihat oleh mata terdapat pesan yang tersampaikan dalam otak Anda. Hal ini juga menjadi jawaban mengapa banyak sekali produk-produk menggunakan foto model, sekedar foto, ataupun keduanya, untuk mempromosikan produk-produknya. Karena apa? Karena Anda, dia, kita, kalian semua, semua orang butuh pencitraan visual. Pencitraan visual yang baik dapat menstimulasikan otak agar menerima pesan yang dimaksud. Jangan sampai karena media Komunikasi Visual yang jelek menyebabkan pesan yang dimaksud tidak tersampaikan kepada publik sebagai komunikan. Seperti contohnya saat sebuah provider menampilkan iklan di koran ataupun di baliho-baliho besar yang terdapat di jalan raya. Mereka memakai artis-artis ternama untuk memasarkan produk mereka, karena unsur terkenal menjadi salah satu daya tarik yang sangat kuat sehingga orang-orang tertarik untuk memakai provider tersebut. Atau contoh lainnya, saat foto bencana gempa di Padang ditampilkan di berbagai media massa, banyak orang yang tergerak hatinya dan ikut menyumbangkan uang ataupun baju-baju bekas dan lainnya agar dapat mengurangi penderitaan yang dirasakan oleh korban gempa di Padang.bahkan orang-orang ikut berdoa. Lagi-lagi the way of seeing. Hal tersebut bisa terjadi karena foto maupun gambar dari video yang bercerita tentang suatu keadaan. Betapa dahsyatnya kekuatan dari gamnabr itu sendiri. Seperti yang disebutkan Galih, fungsi foto sebagai info, pesan, serta harapan di dalamnya.
Salah satu fungsi foto lainnya menurut Galih yaitu sebagai arsip peristiwa atau sejarah. Foto merupakan mata rantai yang penting dalam pembuktian konkret akan sejarah. Bagaimana jadinya jika Jurian Munich tidak dating ke Bandar Batavia pada tahun 1841? Tentu foto-foto sejarah kita yang sudah sangat sedikit itu akan bertambah sedikit jika fotografi belum masuk ke negeri kita saat itu. Betapa foto membuktikan Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Betapa foto membuktikan bagaimana Che Guevara pada akhir hayatnya. Betapa foto membuktikan keindahan pemandangan Gunung Himalaya dari puncak tertingginya. Masih banyak betapa-betapa lainnya yang membuka mata dunia. Sejarah membuktikan asal-usul, dan asal-usul menuntut pembuktian. Lewat foto, kita bisa mendapatkan pembuktian tersebut walaupun kamera belum ditemukan pada zaman sebelum masehi. Foto sebagai arsip, juga sebagai pembuktian bahwa seonggok sejarah benar-benar ada.
Galih menyarankan, untuk mendapatkan hasil foto yang bagus, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Pertama, sesuaikan isi foto dengan tema. Jangan melantur kemana-mana jika Anda ingin foto Anda sesuai dengan apa yang menjadi tema. Kedua, harus puny aide yang unik dan berbeda dari yang lain. Being extraordinary dan out of the box menjadi inti dari unik dan berbeda. Jadilah kreatif, pikirkan apa yang orang lain tidak akan pernah pikirkan. Jika Anda sama dengan yang lainnya, buat diri Anda lebih menonjol dengan membuat (lagi-lagi) sedikit perbedaan. Keluarkan ide-ide gila dari the extraordinary way of seeing yang Anda miliki. Semakin gila, semakin baik karena akan membuat banyak perbedaan, dan mungkin juga kontroversi. Yang terakhir, eksekusi. Jika Anda benar-benar yakin akan ide dan konsep Anda yang unik dan berbeda, segera lakukan eksekusi. Siapa tahu Anda bisa mendapatkan momen yang tak terduga.
Seminar fotografi dari Galih Sedayu ini sedikit banyak mengorek lebih dalam tentang dunia fotografi. Foto-foto yang ia tampilkan dari awal mula persejarahan fotografi dapat menjelaskan bagaimana fotografi itu bermula dan memang betapa ‘cantiknya’ dunia fotografi. Hanya saja ia kurang menjelaskan secara detail untuk setiap foto yang ia tampilkan di depan khalayak. Mungkin the way of seeing saya menganggap seperti itu. Bagaimana dengan Anda?

Pita Merah Kami Ubah Stigma Buruk ODHA Melalui Photo Story Contest

http://www.unpad.ac.id/archives/37828

Pita Merah Kami Ubah Stigma Buruk ODHA Melalui Photo Story Contest

Laporan Oleh : Lydia Okva Anjelia

[Unpad.ac.id, 12/12] Epidemi AIDS di Indonesia dipandang sebagai sebuah fenomena gunung es yang berbahaya. Stigma terhadap penderita HIV AIDS pun sangat tinggi, dimana masih terjadi stigma buruk sekaligus perlakuan diskriminasi terhadap mereka yang terinfeksi HIV. Atas fenomena tersebut, kemudian berbagai cara dilakukan orang dari berbagai tempat, kelompok, dan kalangan untuk membantu mengurangi perlakukan diskriminasi tersebut, salah satunya kegiatan Photo Story Contest dengan tema “Stop Diskriminasi Odha” yang dilakukan mahasiswa Ekstensi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad.

Juri Photo Story Contest, Dudi Sugandi (kanan) menyerahkan sertifikat dan hadiah kepada Ajie Wikana (tengah) sebagai salah satu pemenang lomba. (Foto: Lydia O. Anjelia)

“Dalam kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat dan fotografer pada khususnya untuk mau sedikit peduli dan merubah stigma atau persepsi yang salah terhadap penderita HIV-AIDS atau ODHA. Maka kita menyuarakan hal tersebut lewat medium Foto,” tutur Tezar Irvandhi, Ketua Penyelenggara acara tersebut ketika ditemui disela-sela acara Bedah Foto dan pengumuman pemenangPhoto Story Contest “Stop Diskriminasi ODHA” di Cafe Prefere’72 Jln. Ir. H. Djuanda No.72 Bandung, Sabtu (11/12) kemarin.

Kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa Humas kelas A (Ekstensi) Fikom Unpad ini dikenal dengan nama Pita Merah Kami. Tezar mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi dari mata kuliah Event Organizer, Program Studi Humas Fikom Unpad. Objek foto cerita, tambahnya merefleksikan kehidupan ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) berupa realitas atau fiksi menurut angle atau pandangan kreatifitas fotografer.

“Pendaftaran lomba foto sendiri telah dilakukan sejak 8 November 2010. Dari seluruh peserta dan foto yang masuk, hari ini dipilih 3 terbaik yang akan mendapatkan hadiah total sebesar Rp.2.500.000,-,” lengkap Tezar.

Dari 11 peserta, terpilih tiga terbaik yaitu karya foto dari Ajie Wikana, Muhammad Fadlan, dan Miko Maselda. Bertindak sebagai juri, jurnalis dan Redaktur Foto H.U Pikiran Rakyat Dudi Sugandi, Fotografer dan penggiat foto Galih Sedayu, dan aktifis LSM Sekar Wulansari.

“Lomba photo story ini menurut saya sangat positif. Dari tema yang ditampilkan sangat menarik dan mempunyai sisi edukasi yang cukup tinggi,” tutur Redaktur Pikiran Rakyat, Dudi Sugandi ditemui seusai acara.

Pengambilan tema menurutnya sangat cerdas karena mengambil tema Stop Diskrimasi. Selain temanya yang cukup sulit, foto yang dilombakan pun photo story. Peserta tidak hanya dituntut untuk membuat satu gambar, tapi banyak gambar yang masing-masing mempunyai pesan.

“Jika digabungkan, foto-foto tersebut kemudian terbentuk satu benang merah yang bercerita dan dapat menyampaikan pesan secara utuh kepada siapa saja yang melihatnya,” tambah Dudi.

Ketika ditanya foto-foto yang telah masuk dalam lomba ini, Dudi mengatakan hasil foto yang dilahirkan para peserta menurutnya masih kurang maksimal. “Dari gambar yang masuk, kebanyakan menampilkan foto-foto di sisi kelam. Justru yang sebaiknya ditampilkan adalah sisi terangnya. Sesuatu yang lebih berwarna,” tambah Dudi.

Menurutnya, di kalangan fotografi membuat suatu photo story memang bukan sesuatu yang gampang. Untuk membuat photo story yang baik kiatnya hanya pada masalah waktu, kebiasaan, dan banyak belajar.

“Disini lah peran tambahan dari fotografi. Seni menjepret adalah seni berkomunikasi. Kita bukan hanya tukang motret. Tapi apa pesan yang disampaikan dalam foto kita tersebut,” tutup Dudi.

Pada kesempatan yang sama, salah satu pemenang Ajie Wikana mengatakan merasa senang fotonya dapat menjadi salah satu terbaik pilihan juri. Awalnya ia tidak menyangka dapat menang. Menurutnya foto dengan tema “Stop Diskriminasi Odha” sangat sulit. “Tema foto ini bagi saya cukup sulit. Tapi alhamdulilah ternyata karya saya terpilih jadi yang terbaik,” tutur Ajie yang juga mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad ini.

Bagi mahasiswa angkatan 2009 ini, photo story merupakan jenis fotografi yang penuh dengan tantangan. Ia mengatakan perlu banyak belajar untuk dapat menghasilkan photo story yang baik.“Ini menjadi tantangan saya yang menyenangi dunia fotografi. Saya harus banyak belajar, dan diharapkan kontes foto seperti ini dapat rutin dilakukan agar kemampuan dalam menghasilkan photo story jadi lebih baik lagi,” tutup Ajie. (mar)*

 

Artikel Berita Workshop Fotografi Kompas

http://www.mahasiswa.com/index.php?aid=12888&cid=17

 

Monday, 29 November 2010
HMJ Unpad Bersama Kompas Mensosialisasikan Citizen Journalism
Senin. Karya jurnalistik ternyata tidak hanya dihasilkan oleh jurnalis profesional. Dengan hadirnya konsep citizen journalism, media massa konvensional seolah-olah memiliki “perpanjangan tangan” dalam mendapatkan informasi baru. Hal inilah yang mendorong Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (HMJ Fikom) Unpad bekerja sama dengan Kompas Jabar menggelar “Parade Jurnalistik”.

“Kita ingin mendidik warga tentang jurnalisme. Jadi informasi tidak hanya dari para wartawan saja tapi warga-warga biasa juga, ini adalah citizen journalism. Kita menstimulus mereka supaya lebih aktif menulis, karena isi media massa sebenarnya tidak hanya disupport oleh wartawan dan pegawainya saja, tapi kita perlu juga suntkan segar dari luar,” jelas Account Executive Kompas, Fitri Listiyana.

Rangkaian acara “Parade Jurnalistik” ini diawali dengan acara “Workshop Fotografi” yang digelar di Lounge XXI Cihampelas Walk, Jln. Cihampelas No. 160 Bandung, Sabtu (27/11). Dalam acara kali ini, HMJ Fikom Unpad dan Kompas menggandeng Canon sebagai pendukung acara. Diharapkan dengan digelarnya workshop ini, masyarakat akan lebih terstimuli dengan citizen journalism, khususnya mengenai fotografi jurnalistik.

“Jadi sekarang sudah banyak yang sebenarnya bukan fotografer profesional, tapi dia bisa menangkap foto-foto luar biasa. Kalau koran kan tidak mungkin selalu menyediakan wartawan dan fotografer dimana-mana. Nah, kita mau melatih warga juga supaya lebih peka membidik momen-momen yang menarik. Jadi istilahnya, kita punya perpanjangan tangan dimana-mana kalau semua orang sudah jago foto,” jelas Fitri, yang akrab dipanggil Fifi.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Pelaksana gelaran tersebut, Diana Siti Rahmawati. “Dengan tema ‘enlightenment’, kami ingin memberikan pencerahan ke masyarakat bahwa jurnalistik itu semata-mata tidak hanya dilakukan oleh wartawan, melainkan dapat dilakukan oleh masyarakat luas,” ungkapnya.

Bertindak sebagai pembicara dalam “Workshop Fotografi” ini adalah pengelola Air Photography Communications, Galih Sedayu yang membahas mengenai sejarah, manfaat, dan aplikasi teknik fotografi, serta Jurnalis Foto Senior Kompas, Julian Sihombing yang membahas mengenai foto jurnalistik.

Pada sesi selanjutnya, peserta diharuskan memburu foto jurnalistik di wilayah Cihampelas Walk dan Jalan Cihampelas. “Jadi peserta itu bisa mempraktikan ilmu-ilmu yang sudah dia dapatkan dari seminar. Setelah hunting foto-fotonya dikumpulkan, nanti dipilih delapan foto terbaik untuk di muat dimuat di Selasar Foto Kompas,” jelas Fifi.

Workshop ini diikuti oleh oleh 67 peserta dari berbagai kalangan usia. Peserta pun tidak dibatasi untuk warga Bandung saja. Peserta bahkan peserta ada yang berasal dari Bandar Lampung, Majalengka, Indramayu, dan Cirebon.

Artikel Berita Jumpa Pers Pos Indonesia Photo Contest 2010 (Investor Daily Indonesia)

Artikel Berita Jumpa Pers Pos Indonesia Photo Contest 2010 (Galamedia)

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20101216104301&idkolom=tatarbandung

PT Pos Indonesia Gelar Kontes Foto
MARTADINATA,(GM)-
Untuk keenam kalinya, PT Pos Indonesia kembali menggelar kontes foto dengan tema “Pos Indonesia Perekat Bangsa”. Menurut ketua penyelenggara, Galih Sedayu, tema lomba foto ini sama dengan tahun 2006, namun dari sisi hadiah berbeda.

“Namun, tahun ini temanya lebih mengangkat pada peranan PT Pos Indonesia di setiap pelosok Indonesia,” ungkap Galih dalam jumpa persnya di Kopi Lay, Jln. Martadinata Bandung, Rabu (15/12).

Dikatakan Galih, tema ini sengaja diangkat karena banyak anggapan PT Pos Indonesia sudah tidak mampu bersaing dengan kecanggihan teknologi. Namun ternyata, PT Pos Indonesia masih beroperasi dan setia melayani para pelanggannnya.

“Intinya, kami ingin mengangkat kembali peranan PT Pos Indonesia kepada masyarakat,” ujarnya.

Dijelaskannya, objek foto merupakan segala aktivitas Pos Indonesia di seluruh pelosok Tanah Air. Ada tiga bidang utama yang menjadi fokus pelayanan Pos Indonesia, yaitu pelayanan surat-menyurat (mail), logistik (logistic), dan jasa keuangan (finance).

“Sehingga, karya foto tersebut dapat mencerminan bahwa Pos Indonesia ada di mana-mana,” tambahnya.

Dikatakan Galih, lomba ini terbuka untuk umum dengan berbagai jenis kamera dan pengiriman hasil karya bisa dikirim ke Air Photography Communications, Surapati Core Blok m-32, Jln. P.H.H. Mustafa 39 Bandung 40192. Total hadiah mencapai Rp 55 juta.

“Syarat dan ketentuan lomba bisa diakses di http://www.posindonesia.co.id atau http://www.fotografibergerak.com,”; tambahnya

Marketing and Devolepment PT Pos Indonesia, Setyo Riyanto menyebutkan, hasil lomba foto ini banyak digunakan untuk kepentingan PT Pos Indonesia untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat. Bahkan, tambahnya, hasil lomba foto tahun-tahun sebelumnya pun banyak yang diambil dan diabadikan sebagai prangko dan promosi Pos Indonesia. (B.81)**

Artikel Berita Jumpa Pers Pos Indonesia Photo Contest 2010 (Suara Karya Online)

Artikel Berita Jumpa Pers Pos Indonesia Photo Contest 2010 (Antara Jawa Barat)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers