Archive for August, 2010

MENGGUGAH RUANG APRESIASI FOTOGRAFI, Pertemuan Ongkoss, 23 Agustus 2010

Ruang petak pulas hijau itu kini menjadi ruang diskusi. Tumpukan buku yang rindu untuk dibaca kemudian jadi tantangan buat siapa saja yang menyapanya. Ruang inilah yang ditawarkan Dadang Jauhari, leader Republic of Entertainment, untuk dinikmati bersama. Apalagi kalau bukan ruang Wawan Juanda (Alm) library, teritorial gudang ilmu yang didedikasikan untuk ruang publik komunitas kreatif. Kesempatan ini disambar forum diskusi fotografi ONGKOSS, dalam perbincangan “Ruang Apresiasi Fotografi” untuk pertemuan bulan Agustus.

Seperti biasa, entah itu jadi trend. Waktu di kota Bandung serasa penuh dengan norma-norma toleransi yang sangat tinggi sekali. Terlambat itu bukan lagi dalam hitungan detik-menit, namun jam. Hal biasalah, malah aneh kalau tepat waktu. Begitu juga dengan waktu undangan pada kegiatan forum diskusi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS, pertemuan bulan ke-tiga, hari senin, 23 Agustus 2010. Pukul empat ternyata harus kalah dengan produsen karet, akhirnya jam lima adalah angka negosiasi yang pas. Satu pertastu partisipan hadir, sebutlah Sjuaibun Iljas dan Iwan Santosa selaku dosen fotografi. Riadi Raharja, Agus Wahyudi, Tisna, Argus, Usenk, Eki, Roni, Galih Sedayu dan Mia. Acara dibuka oleh Deni Sugandi, melemparkan topik diskusi, yaitu menyoal ruang apresiasi fotografi di Bandung.

Ruang apresiasi yang dimaksud, bukan berupa bentuk fisik ruang pamer saja, melainkan bisa berupa ruang adu wacana, ruang diskusi, ruang baca, ruang presentasi ataupun ruang di dunia maya sekalipun. Kembali membatasi berbicara seputar ruang pamer-foto, di Bandung, Mia Damayanti telah membuktikannya, bahwa banyak ruang alternatif yang ada. Seperti pada pamerannya di sebuah café di jalan Bagusrangin, dalam pameran karyanya “Jazz-Poster & Post it” tanggal 11 Juli hingga 7 Agustus 2010 lalu. “Malahan dari pihak café pun tidak memungut biaya dan ketentuan-ketentuan khusus, yang misalnya harus menghadirkan orang pada acara pameran ini” jelasnya. Sebutlah, ruang alternatif seperti ini begitu banyak hadir di kota Bandung, yang konon kota kuliner, yang menandakan masyarakatnya sangat komsumtif. Entah itu di dalam kota, hingga kepuncak-puncak bukit pinggiran kabupaten Bandung utara. Mia Damayanti sangat bersukur diberi kebebasan lebih, bisa mengapresiasikan karyanya di ruang publik-komersil ini. Tidak seperti sebuah café di Cikapayang Dago, yang memang membranding dirinya sebagai ruang apresiasi pamer karya foto, menyebut namanyapun “sangat fotografi” namun sayang sekali, pemiliknya tidak berupaya mengapresiasi karya foto. Sebut saja pameran karya kawan-kawan dari kampus, dengan tajuk “Panggung Selebrasi” yang dipamerkan di café tersebut, dari tanggal 8 hingga 10 Mei 2010. Sungguh sangat prihatin, tata letak dan cara penyajiannya membunuh karya foto tersebut. (lihat artikel momen-artifisial-catatan-pameran). Jelas membuktikan, ruang alternatif tersebut kadang bisa menjadi buruk.

Seperti Sandy Jaya Saputra, yang biasa dipanggil Useng ungkapkan, bahwa karya pun tidak melulu harus hadir di ruang seperti itu. Dalam garapannya bersama kawan-kawannya di Brigadephoto#, ruang garasi belum jadipun bisa menjadi ruang apresiasi. (lihat Just Kick The Wall) Semuanya berpulang pada konsep apa yang hendak dibangun dan komunikasi apa yang akan disampaikan.

Berpameran karya fotografi, tentunya tidak begitu saja, selain gagasan, bentuk sajian dan promo, hal terpenting adalah mengkomunikasikan ide kreator. Disinilah dibutuhkan seorang kurator, menyambung lidah dari karya pameran ini pada publik. Karena ketika dihadirkan diruang publik, tentunya menjadi konsumsi penikmat foto. Komentar baik maupun buruk, tentu saja berpulang kepada publik itu sendiri. Jadi berpameran itu adalah bentuk tanggung jawab karya. Mengapa harus berpameran?

Tentu saja, ada alasan khusus. Bila tidak mempunyai motivasi, buat apa menghabiskan dana, waktu dan tenaga. Bila dilihat dari motifnya, pameran dilaksanakan karena ingin mengkomunikasikan karya kepada publik. Bila tidak ingin dihujat, saran yang terbaik adalah narsis dibalik layar monitor komputer. Selain itu sebagai sarana untuk “jualan” Perlakuan seperti ini sering terjadi di dunia fotografi komersial, entah itu penjualan lansung karya tesebut maupun bersifat benefit, menjual citra fotografer itu sendiri.

Sebagai penanda karir, atau dalam dunia profesi pekerja seni fotografi, update karya adalah penting, sehingga bisa menandai hasil karya lalu dengan karya berikutnya. Bisa juga sebagai mencari jejaring dan branding. Bagi pekerja seni fotografi, bentuk ciri karya individual akan menjadi benda koleksi. Hal ini hanya terjadi di ruang gallery, lengkap dengan kurator sebagai “penjaja karya” pada publik. Selebihnya adalah bentuk aktualisasi diri. Bentuk kontemplatif ini bisa disebut sebagai mengajak penikmat foto menyelami suatu persoalan. Bahasa yang bisa dimunculkan adalah opini si kreator yang bersangkutan. Bila komunikasi visual tersebut dimengerti penikmat foto, maka karya tersebut tidak penting lagi.

Kembali pada ruang apresisasi pameran karya. Sepakat dikatakan bahwa ruang ruang semacam itu ada. Yang jadi persoalan adalah kehendak dari si kreator tersebut menggelar karyanya. Menurut Tisna, ada dua kemungkinan, apakah karena tidak tahu bagaimana tata cara berpameran, atau tidak mempunyai keberanian. Galih Sedayu menimpali, untuk urusan manajemen pameran, ia pun telah mengusahakan bersama kawan-kawan yang lain. Dalam catatannya nyapun ia pernah membantu, diataranya pewarta foto Andri Gurnita, menyelenggarakan pameran foto di Gedung Indonesia Menggugat setahun lalu. Jadi untuk organising dan manajemen pameran pun sudah ada di Bandung.

Untuk masalah keberanian, Sandy melihat seharusnya dunia pendidikan; penyelenggara pendidikan atau pendidiklah yang seharusnya lebih bertanggung jawab. “Inilah fotografi Indonesia” ucap Ray Bachtiar pada pertemuan Ongkoss sebulan lalu, menyikapi kondisi kekinian. Pada akhirnya masalah ini menjadi beban bersama, “Ruang diskusi pun merupakan salah satu ruang apresiasi” kata Galih. Pada akhirnya geliat fotografi di kota Bandung yang seharusnya lebih merangsang, kini kehilangan nafsunya. Karena keberanian berpameran itu bukan agenda penting lagi bagi sebagian penghasil karya foto di Bandung. Karena pilihan tersebut memang tidak pernah ada. (denisugandi@gmail.com)

Foto Dokumentasi Kegiatan Photo Ramadhan VI

Ujang Bedog tengah memperagakan kamera digital dengan lensa manual

Julius Tomasowa tengah menerangkan tentang kamera lubang jarum

Suasana pemotretan di kegiatan photo ramadhan VI

Para fotografer yang aktif di kegiatan photo ramadhan VI

Para model yang turut mengisi kemeriahan photo ramadhan VI

Para fotografer berpose bersama model photo ramadhan VI

Arief SP tengah memberikan presentasi foto prewed di Photo Speak

Para partisipan kegiatan photo ramadhan VI

Artikel Berita Acara Photo Ramadhan VI

PENAWARAN LUBANG JARUM, Gathering buka puasa bersama fotografer Bandung, 21 Agustus 2010

Gerimis mengundang, begitulah akhir dari cerita berbagi cerita komunitas, yang sedianya diselenggarakan diluar ruang, akhirnya ditarik dalam ruangan. Apapun yang terjadi, terjadilah; dalam kemasan silaturahmi para hobies, profesional fotografer pada acara Photo Ramadhan, di Puri Suralaya Wedding House jalan Soekarno-Hatta, tanggal 21 Agustus 2010. Acara yang secara konsisten diselenggarakan setahun sekali, kini menginjak tahun ke-enam.

Hampir 100 orang lebih, memadati ruang tengah wedding house ini. Tampak para partisipan tidak saja berasal dari dalam kota Bandung, tetapi ada juga dari luar kota, tersebutlah Jefrey, yang memang sengaja datang dari Merak-Serang, khusus untuk acara ini. Begitu juga dengan beberapa komunitas luar kota lainya; Tasikmalaya, Bogor juga dari komunitas fotografi Sukabumi yang baru tahun ini menggeliat. Bisa dikatakan, memang mereka hendak melihat gerakan fotografi apa yang kini terjadi di kota Bandung.

Tepat pukul 15.00 wib, satu jam mundur dari perkiraan. Memang selain jarak tempuh lokasi penyeleggaraan acara ini cukup menantang, juga karena musim yang kini tidak menentu; musim kemarau basah! Tentu saja, hujan akhirnya menjadi aksesoris acara ini, mau tidak mau pertemuan sharing komunitas ini dilaksanakan di dalam ruang. Setelah pemaparan dari penggemar lensa manual, melalui presentasi komunitas yang diwakili oleh Ujang Ubed, selaku sespuh kelompok ini, kemudian kesempatan berikutnya diberikan kepada koumitas lubang jarum Bandung. Pada kesempatan ini, paparan dipercayakan kepada Julius Tomasowa, yang biasa dipanggil Ulis.

Boleh dikatakan, bagi sebagian partisipan yang hadir mungkin sudah mengetahui, apa itu pinhole. Jadi Ulis terlihat tidak terlalu sulit menjelaskan perkara teknis dalam perakitan kamera lubang jarum. Ia memaparkan bahwa, kamera yang paling hebat didunia adalah kamera buatan sendiri. Sejatinya, memang itulah semangat dari kekuatan lubang jarum; dibuat bukan dibeli. Selanjutnya, Ulis mengajak partisipan menyelami kembali bahwa proses seperti ini adalah bentuk pilihan dari semangat fotografi yang sudah ada. Sebuah proses yang sarat mengandung imajinatif, kreatif dan bentuk apresiasi kreasi dalam berkarya. Tentu saja, yang ia maksud adalah merakit kamera, sekaligus bagaimana caranya melubangi. “Pada prinsipnya, cahaya akan diloloskan melalui lubang kecil, kemudian diproyeksikan dan direkam oleh kertas foto” paparnya.

Antusias pengunjung terbukti. Dua orang teman dari komunitas fotografi Sukabumi, diataranya Bobby, langsung menyatakan keinginannya memboyong lubang jarum. Begitu banyak pertanyaan dilontarkan, terlihat haus akan informasi, bahkan ia meminta jenis kamera yang pernah dirakit teman-teman komunitas pinhole di Bandung. “Terima kasih kang, mungkin saya bisa menjelaskan lebih rinci pada teman-teman di Sukabumi” katanya, sambil memegang kamera rakitan pemberian komunitas lubang jarum Bandung. Jelas Ia bermaksud menyebarkan semangat ini pada kawan-kawannya di komunitas di kotanya, yang baru berusia beberapa bulan. Bisa jadi, ia telah menerima tawaran, bahwa lubang jarum turut menggairahkan. Ia sadar bahwa, melalui sebuah lubang kecil, ia hendak menggali potensi kreasi dan apresiasi seni fotografi. Mari kita tunggu tanggal mainya! (denisugandi@gmail.com)

Karya-Karya Foto “Makna Kemerdekaan Melalui Bahasa Fotografi”

(c) Arindra Syafitri Andhani

makna kemerdekaan bagi saya adalah pada saat ini kita sudah bisa mengibarkan bendera dengan leluasa tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti saat masih dijajah oleh Belanda dan Jepang dahulu.

(c) Idham Hanafiah

Generasi muda yang memaksa tumbuh di tengah relief abstrak masalah indonesia.

(c) Anggoro Harry

Foto ini saya ambil pada saat saya masih berada di Klaten tempat saya berasal , foto itu saya ambil saat saya berjalan di depan warung soto dekat rumah saya.

Indonesia telah merdeka selama ini, mulai tahun 1945 – 2010. Tetapi ironisnya, saya masih menemukan (ini yang saya saksikan dan alami sendiri) ada anak-anak yang masih kesulitan dan tidak bisa masuk bersekolah, keluarga mereka miskin dan tak mampu membayar biaya sekolah. Lebih ironis lagi, masih ada anak-anak yang masih kekurangan makanan, bahkan lebih parah lagi kekurangan minum air yang layak minum karena kondisi kemiskinannya.

Apakah itu makna sesungguhnya kemerdekaan kita selama ini?

(c) Helmi Frawisandi
Judul : H.A.M = MERDEKA

foto diatas setelah saya sahur tanggal 12 agustus 2010
saya jalan jalan mengelilingi kota bandung
dan pemandangan inilah yang saya jumpai,
saya hanya memahami dari saya kecil duduk di bangku SD sampai saya kuliah sekarang,
yang saya pahami para Pahlawan kita ingin merdeka karena tidak mendapatkan H.A.M dari penjajah, dan juga agar anak cucunya mendapatkan H.A.M

H.A.M (Hak Azazi Manusia):

  • Hak untuk hidup.
  • Hak untuk memperoleh pendidikan.
  • Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain.
  • Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.
  • Hak untuk mendapatkan pekerjaan

Apakah sekarang kita dapatkan yang lima itu??
kalau sudah dapat syukur, tapi nih ada tapinya
dan masikah kita melihat orang disekitar kita tidak mendapatkan itu??
kalau masih ada tandanya mereka belum merdeka dan kita juga belum merdeka
karena kita ini satu, jadi apabila dari kita masih ada yang belum dapatkan yang lima itu maka kita juga belum merdeka…,

dan semoga merdeka ini untuk kebersamaan masyarakat Indonesia

(c) Siti Aisyah

Saya mengambambil gambar pohon bambu,karena timbul dalam benak saya,apakah ada hubungannya semakin berkurangnya populasi tanaman bambu ini denagn menurunnya semangat juang bangsa ini?
Pasalnya,dahulu kala semasa penjajahan,para pahlawan hanya menggunakan bambu runcing,dan mereka tetap semangat. Lalu,apa soplusinya untuk anak bangsa sekarang?apakah kita harus menanam bambu sebanyak – banyak nya?

(c) Yusuf Aldeby

Mengisi kemerdekaan adalah tugas kita sebagai warga negara. Sebagai seorang civitas academica, kita bisa mulai mengisi kemerdekaan dengan cara belajar dengan giat dan rajin.

(c) Irsyad Asmarandhi

Negara kita telah merdeka 65 tahun……….
hanya negaranya saja yang telah merdeka, namun dilihat dari aspek lain banyak yang masih terjajah…….
masih banyak kesenjangan sosial yang sangat menonjol. sebuah gedung yang sedang dibangun dengan begitu megahnya di tengah-tengah lingkungan seperti itu…
itulah cerminan bangsa kita saat ini

(c) Pilander Tias Baptista

Dari foto tersebut dapat tercermin dimana arti kata MERDEKA yang sesungguhnya sudah dapat kita rasakan, selain itu, mengibarkan bendera merah putih di masing-masing rumah merupakan salah satu bentuk partisipasi kita dalam menyambut Hari Kemerdekaan RI dan bentuk penghargaan kita kepada para pejuang kita.

(c) Yudha Febfrin

Kemerdekaan negara kita belum disertai dengan kemerdekaan dari mafia hukum.
Beberapa anggota masyarakat masih diperdaya oleh oknum yang bermain dengan hukum.
Mereka memiliki tanda bahwa pemilik sah bangunan tersebut.

“Try in Crowded” (c) Rezky Febrinando

Indonesia secara fisik sudah merdeka, tetapi rakyat Indonesia sendiri belum sepenuhnya merdeka. Masih banyak rakyat Indonesia yang menderita dan di bawah garis kemiskinan.
Banyak dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Kemerdekaan Indonesia tidak sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat. Kemerdekaan sejati akan didapatkan Indonesia jika jauh dari kemiskinan dan diskriminasi

“Merdeka” (c) Ikhsan Maulana Akbar

Tema dari foto ini adalah ” Merdeka Atau Mati ” . maksudnya indonesia harus merdeka tidak hanya secara bebas dari penjajahan, namun harus merdeka dari segi kehidupan juga. jika sudah bebas namun tidak berkembang maka akan mati. mati dari perkembangan dunia dan tidak bisa berubah menjadi lebih baik.

(c) Sylvia Simamora

Makna kemerdekaan dari photo ini adalah semangat,kekompakan,komitmen bekerjasama untuk mencapai hasil yang terbaik sehingga walaupun kita agak goyah,tapi kalau sudah ada landasan-landasan diatas maka arti dari kemerdekaan itu akan tetap dijunjung tinggi oleh setiap orang.

(c) Nisa Amalina S

Merdeka berarti dapat berdiri di atas tanah air kita sendiri dengan kedaulatan yang penuh dan terlepas dari belenggu penjajahan.

Bangsa Indonesia yang kala itu hidup begitu sengsara meskipun berpijak di atas bumi nusantara yang begitu kayanya, sangat menantikan detik-detik pendeklarasian kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan para pahlawan kita yang tanpa pamrih dalam melawan kolonialisme dan imperialisme, akhirnya membuahkan impian itu..

Kita, putra-putri Indonesia saat ini sudah sepatutnya melanjutkan perjuangan itu. Pengekspresian rasa syukur kita akan kemerdekaan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk salah satunya adalah dengan membangun tugu/monumen ini. Selain itu, monumen ini dibangun sebagai pengingat bagi kita akan besarnya harga yang harus dibayar para pejuang dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

(c) Siska Anggraini

Anak2 kecil yang bangga dengan kemerdekaan, meskipun siang hari yang terik, mereka tetap antusias untuk meraykan kemerdekaan RI.

(c) Agnes Anggraeni

foto berikut ini merupakan contoh dari belum merdeka nya negara kita dari kemiskinan .
menurut saya kemerdekaan bukan hanya merdeka dari penjajahan negara lain, tapi kita harus merdeka dalam hal kemiskinan. Dua orang anak dalam foto ini contoh dari begitu banyak nya anak-anak jalanan di Indonesia, sebagian dari mereka tidak pernah merasakan bangku sekolah dan tidak mendapat pendidikan yang seharus nya semua anak Indonesia dapat kan. mereka dibebani dengan ekonomi keluarga yang mengharuskan mereka menjadi anak jalanan dengan cara menjadi pengamen, pedagang koran, bahkan menjadi pengemis.
di belakang dua anak ini di pasang beberapa bendera untuk menyambut hut RI dan menandakan bahwa negera kita telah merdeka, tetapi tidak dengan anak-anak ini yang belum merdeka dari kemiskinan.

(c) Yodia Widyani

Maknanya adalah seorang anak kecil yang bangga erhadap bangsa indonesia

(c) Dewanda Saputri

foto lama yang alhamdulilah masih saya simpan sebagai kenang2an..

(c) Septiannisa Maulida

walaupun Indonesia sudah merdeka, bukan berarti semua penduduknya hidup sejahtera. tapi mereka yg hidup dengan kondisi yg memprihatinkan masih memperingati kemerdekaan  dengan cara memasang bendera di depan rumah.

(c) Rima Pratita

Makna kemerdekaan dalam foto ini adalah kita sebagai bangsa Indonesia sudah tidak memperdulikan apa itu arti dan makna dari kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia dahulu.  sehingga kemerdekaan indonesia sekarang ini hanyalah sekedar hiburan dan hiasan semata. bisa dilihat dari foto ini terdapat deretan bendera merah putih yang hanya sebagai penghias jalan ruas di kampus saya.

(c) Devi Liana Pratiwi

Foto ini menggambarkan bahwa kemerdekaan tak sepenuhnya dimiliki atau di rasakan oleh semua orang khususnya generasi-generasi muda yang seharusnya memiliki hak dan kesempatan mengembangkan potensi yang dimilkinya dan juga memperoleh pendidikan di tanah airnya. dalam gambar ini banyak timbul pertanyaan dan pekerjaan rumah bagi pihak2 yang sepenuhnya memegang wewenang atas hak-hak dan nasib mereka karena ‘sampai kapan pendidikan hanya akan selalu menjadi mimpi buat mereka’ namun mereka tak pernah lelah untuk bermimpi .

(c) Lidya Luciana

Foto ini menggambarkan tentang kecerdasan masyarakat Indonesia di bandingkan dengan negara lain.contoh gambar ini menggambarkan juga,bagaimana seorang masyarakat yang mempunyai motor yang di produksi negara jepang.dia memberi cat warna bendera Indonesia,dan berlambangkan honda produksi negara jepang.namun ini bukan produk Indonesia asli,kita masih jauh untuk sejajar dengan negara pemroduksi ini.dan kita masih menjadi masyarakat yang konsumtif,kita hanya bisa menggunakan tetapi tidak bisa memproduksinya.semoga tahun yang akan datang ,Indonesia akan bisa lebih berkarya dari pada negara lain khususnya negara pemroduksi motor tersebut.DIRGAHAYU INDONESIA

(c) M Akbar Fahlevi HSB

Meskipun di daerah kumuh, semangat anak bangsa untuk merayakan kemerdekaan tergambar dengan bangga membawa sang Merah Putih.

(c) Arga Arkadhia yusuf

Berkibarlah benderaku!!

(c) Donie Hulalata

Kemerdekaan bagaikan gembok yang telah terbuka.

(c) Patra Pamindo

Apakah kita sudah merdeka seluruhnya?

(c) Nindya Priska Permata

Hari kemerdekaan harus dirayakan dengan bergembira, karena kita bangsa Indonesia telah merdeka. Meskipun hari kemerdekaan telah lewat, namun semarak kemerdekaan masih berkobar di jalan-jalan.

(c) Rivira Tania

Terdapat beberapa rumah di dalam foto, namun hanya 1 rumah yang mengibarkan bendera Merah Putih. Semangat kemerdekaan yang kurang dipahami oleh masyarakat.

(c) Febrianto Nugroho Adi

Foto yang saya unggah ini adalah sebuah foto pendakian para pecinta alam pada saat memperingati HUT RI ke-65.
Kita dapat mengambil hikmah dari perjuangan mereka mencapai puncak dan mengibarkan bendera merah putih.
Sebagai generasi muda,
Marilah kita melanjutkan cita-cita bangsa dengan hal-hal yang positif demi kemajuan bangsa Indonesia!

(c) Dwi Okta Mahardika

Maksud dari foto ini,…
Merdeka!!!!!! Merdeka adalah hak semua bangsa, walaupun penjajah telah pergi, tapi kemiskinan tetap saja menghambat rasa kemerdekaan orang miskin. Tapi tak pernah padam rasa kemerdekaan itu, sekali merdeka tetap merdeka…meskipun tak bisa memperingati hari kemerdekaan di ISTANA MERDEKA, para penjual bendera tetap bisa memperingatinya dengan menjual bendera di jalanan. Meskipun terik membakar, tapi semangat 45 tetap membara!!!

Artikel Lepas Liputan Merdeka Dalam Bahaya

Dua orang berjaket kulit tampat menguntit dari kejauhan, pada akhirnya memberanikan diri bertanya pada kerumunan lintas komunitas fotografi, yang sedang silaturahmi di Braga bawah. “Apakah ini pentas teatrikal? Ada rencana bergerak kemana?” tanya seorang berwajah agak gelap. Tentu saja mudah ditebak, mereka adalah Intelkam Kepolisian Daerah Jawa Barat, yang memang tugasnya adalah mendeteksi potensi gangguan keamanan secara dini yang bersumber dari kerumunan massa. Merdeka dalam bahaya!

Pagi, pukul 08.30 WIB, Otoy sang pemilik cetak kilat, adfruk foto satu-satunya di Bandung, nampak terkaget-kaget. Bukan lantaran ketiban rejeki, melainkan kunjungan komunitas pengguna film yang tiba-tiba datang. Kios mungil cetak pas foto kilat ini (lihat artikel: http://denisugandi.blogspot.com/2010/02/lebih-cepat-dari-cahaya-jasa-cetak-pas.html) adalah artefak, tinggal satu-satunya yang masih beroperasi di depan kantor Pos Bandung. Kunjungan komunitas pengguna film, setidaknya memberikan dukungan, bahwa proses tradisional ini belum mau mati.

Pengumuman lewat jejaring sosial memang sangatlah ampuh. Terhitung lebih dari 50 orang yang hadir, siap menyikapi tujuh belasan dengan caranya sendiri. Adalah komunitas toys camera yang biasa disebut komunitas Klastic, hadir lengkap dengan seluruh anggotanya. Kemudian komunitas penggemar kamera rakitan tanpa lensa-Pinhole Bandung (KLJI Bandung & Kampi), komunitas lensa manual, Air Photography Communications, Bidik-Inova, Postography/komunitas fotografi di kalangan pegawai kantor Pos (pa Agus), Paguyuban Analog dan Kamera Kolot/Panakol dan komunitas fotografi lainya, yang turut melengkapi rombongan hunting bersama ini. Start di tempat pa Otoy, kios cetak foto yang biasa mangkal di depan kantor Pos Kosambi, kemudian mulai bergerak menyusuri pusat perbelanjaan pasar Kosambi. Beberap teman-teman begitu antusias, merekam segala peristiwa yang unik melalui lubang bidik kameranya. Begitu juga Wili, mulai sibuk membidik dengan kamera rakitannya. Berbeda dengan pa Oeke, seorang ahli Radiography-xray untuk uji perangkat pesawat terbang, yang nekat melakukan pemotretan dengan menggunakan kamera rakitan lubang jarum, ditengah-tengah jalan Kosambi yang sangat ramai. “Saya selalu penasaran” katanya enteng. Saya menduga, mungkin pa Oeke ingin menyampaikan pesan antusiasnya, bahwa Komunitas Lubang Jarum Indonesia, kini merayakan ulang tahunnya yang ke-8, bertepatan dengan lahirnya republik ini.

Teman-teman klastic pun antusias meraba setiap jengkal jajanan dan potret jasa penjual sepanjang jalan di depan gedung Rumentang siang. Tema, Dony dan lainya dari Klastic, nampak begitu “ciamik” memotret kiri-kanan, seputaran depan gedung Rumentang Siang. Meskipun kemeriahan tujuh belasan, tidak seramai bulan lalu yang jatuh bukan pada bulan puasa, namun semuanya turut menyikapinya dengan mendokumentasikan segala aktifitas yang ditemui sepanjang jalan raya Pos masa Deandels, gubernur Hindia Belanda (1807-1811) yang memerintahkan pembangunan jalan raya Pos, yang mengubungkan pula Jawa dari Barat ke Timur, sejauh kurang lebih 1000 kilometer. Melalui keinginan beliau, maka Bandung lahir di samping sungai Cikapundung.

Katapang dan simpang Lima adalah titik kumpul terakhir, yang kemudian dilanjutkan menuju jalan Asia-Afrika, dan berakhir di titik Nol. Dari sini, semua berkumpul untuk dilanjutkan menuju finish, di Braga bawah, depan Majestic. Memang, diiringi kesibukan memotret, sekaligus merekam artefak jalan raya Pos ini sungguh menyenangkan. Inilah kemampuan fotografi, mengambil kembali detail yang luput dari pengamatan mata, kemudian dimaknai kembali melalui lubang intip.

Cuaca panas itu gosip, ternyata hingga pukul satu siang pun, matahari masih bersembunyi dibalik awan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMG, bulan Agustus ini adalah musim kemarau-basah, istilah yang baru ditemukan tahun ini!, memang aneh. Bagi rombongan “kemarau-basah” menjadi keuntungan besar, tidak berpeluh, karena angin barat turut mendinginkan suasana. Ujung dari petualangan singkat ini berakhir di Braga bawah, lebih tepatnya di depan New Majestic. Di titik inilah, silaturahmi lintas komunitas terjadi. Setelah melepas lelah sejenak, acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian workshop proses film hitam-putih oleh komunitas Pinhole Bandung, yang disampaikan oleh Deni (Pinhole Bandung) dan Tema dari Klastic. Meskipun di luar-ruang, partispan yang berjumlah lebih dari lima puluh orang turut cair, mendengarkan seksama. Info ini sangat berharga, karena proses seperti ini menjadi langka, lab foto penyedia jasa seperti ini kini memasang harga dengan tarif yang sangat tinggi. Beberapa teman-teman Pinhole Bandung, dengan sigap memajang karya hasil rekamannya, digantung menggunakan jepitan jemuran di sepanjang pagar seng Braga bawah. Ini adalah bentuk pernyataan keprihatinan kurangnya ruang apresiasi.

Setelah workshop dan demo proses, kemudian dilanjutkan perkenalan masing-masing komunitas; dimulai dari komunitas Pinhole Bandung, yang diwakili Gilang. Ia menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan dengan menggunakan kamera rakitan, proses develop dan cara memotretnya. Dilanjutkan oleh ketua terpilih secara aklamasi, tokoh fotografi di Bandung, Krisna Satmoko, yang biasa dipanggil Ncis, memaparkan visi-misi Paguyuban Analog dan Kamera Kolot Bandung/PANAKOL, yang berencana untuk merekrut, sekaligus memberikan pilihan bahwa fotografi kini bukan melulu kamera digital. Olah rasa dan feeling itu paling cocok dengan menggunakan film, tutur Ncis.

Acara ditutup oleh teman-teman dari Klastic Bandung. Melalui Razky, informasi apa dan siapa penggemar toys camera ini dipaparkan. Boleh dikatakan, komunitas gaya anak muda Bandung ini selalu memikat, malahan tiga orang siswi cantik pelajar SMU malahan tertarik ingin segera bergabung di komunitas ini. Acara berakhir tepat pukul 13.00 WIB, ditutup foto bersama.

Kebersamaan dan berbagi sangat kental terasa pada kegiatan kali ini. Sejatinya fotografi lahir, memang untuk berkeinginan sebagai bahasa universal, bahasa visual yang mudah dimengerti oleh siapa saja. Dengan demikian, tidak sepantasnya fotografi diklaim menjadi milik golongan tertentu, karena itu tidak memberikan manfaat. Dirgahayu KLJI ke-8 dan dirgahayu RI! (denisugandi@gmail.com)

Photo Documentary of Merdeka Dalam Bahaya Program

Dimulainya “Merdeka Dalam Bahaya” dari Gedung Kantor Pos Indonesia Kosambi

Deni Sugandi tengah menerangkan proses cuci film analog

Berpose bersama di depan gedung bersejarah “New Majestic” di kawasan braga

Gilang tengah memperagakan Kamera Lubang Jarum

Krisna Satmoko (chees) tampak sedang menerangkan tentang PANAKOL (Paguyuban Kamera Analog & Kolot)

Masih motret pake film

Para pendekar fotografi yang merespon hari kemerdekaan RI (Panakol, Pinhole Bandung, Klastic, Air Photography Communications)

MERDEKA DALAM BAHAYA : Hunting & Gelar Karya (17 Agustus 2010)…{CLOSED}

Dalam rangkaian Festival Fotografi untuk Bandung 200 tahun, Pinhole Bandung (Kampi&KLJI Bandung), Air Photography Communications, Komunitas B3 LensaManual, komunitas PANAKOL (Penggemar Analog dan Kamera Kolot) dan komunitas Klastic bergabung turut memaknai kemerdekaan RI dalam bentuk hunting bareng “MERDEKA DALAM BAHAYA”

“Cara menapaki kota adalah dengan merekam kembali yang terlewat, untuk dimaknai kembali. Gaya ungkap yang paling pas tugas ini adalah menggunakan kembali kamera film proses tradisional, inilah jurus hebat turut merenungi agustusan, mari bergabung!”

Hari/tanggal
Hari Selasa, tanggal 17 Agustus 2010,

Waktu/tempat
Kumpul pkl.08.30wib, di depan Kantor POS Kosambi, finish di Braga Bawah (New Majestic)

Menyusur jalan utama kota Bandung (Ahmad Yani/Kosambi, simpang lima, Asia-Afrika dan Braga bawah) Dilanjutkan proses cuci negatif-foto dan gelar karya sepanjang jalan Braga.

Terbuka untuk umum (gratis) pengguna media negatif roll film B&W dan kertas film, pengguna digital juga bisa bergabung. Info: Deni 081322393930http://pinholeindonesia.net/

BANDUNG SAPOE : Motret Bandung Dua Puluh Opat Jam Teu Eureun (25 September 2010)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

Dalam rangka merayakan Ulang Tahun Kota Bandung yang ke 200 Tahun dan mengisi rangkaian program Bandung 200years Photofest (Festival Fotografi 200 tahun Kota Bandung),

Kami mengajak para sahabat & masyarakat Kota Bandung untuk berkolaborasi pada sebuah program yang bernama:

“BANDUNG SAPOE” : Motret Bandung Dua Puluh Opat Jam Teu Eureun (25 September 2010)

Program ini merupakan sebuah kegiatan memotret kota bandung selama 24 jam (1 hari penuh) yang dilakukan oleh seluruh masyarakat umum (tidak hanya pecinta fotografi saja). Obyek foto yang direkam merupakan segala peristiwa yang terjadi di Kota Bandung pada saat Kota Bandung merayakan hari jadinya yang ke 200 tahun.

Seluruh karya foto dapat direkam dengan menggunakan media fotografi apapun seperti kamera lubang jarum, kamera SLR (analog & digital), kamera saku, kamera handphone, kamera lomo, kamera polaroid, kamera jelly lens, kamera rangefinder, kamera format medium dan lain lain. Hasil-hasil karya Foto nantinya akan dipresentasikan oleh masing-masing peserta dan dilanjutkan dengan program diskusi.

Tujuan program ini adalah merayakan Kota Bandung dengan harapan agar masyarakat Kota Bandung semakin mencintai kotanya dan dapat memberikan sebuah pesan melalui fotografi kepada Kota Bandung.

KAMI YANG MENGUNDANG MASYARAKAT BANDUNG
25graphy (Klub Foto SMU 25)
AADC
Air Photography Communications
AJI Bandung
Arsitektur Foto (AF) Unpar
Bandung Daily Photo
Bandung Photographer Club
Bidik (Klub Foto STIKOM)
BIDIK Photography for kids
Bidik Photography
Biketography
Bitting Photography
Brigadepoto #
Capture Telkom
CAPSLOCK
CEKAS (Klub foto STISI)
Coffee Photography
Commune Illuminati
Ceuyah Rumah Produksi Fotografi
Chandra Photo
Chis Photography
Deviant Art Bandung
Dikdik Photography
Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB)
Forum Fotografi Kampus (FFK)
Forum Fotografi Bandung
Frame (Klub Foto ITHB)
FSRD Maranatha Klub Foto
Gendhis Photography
Hobi Foto Bandung (HFB)
Hima Fotografi UNPAS
HUMANIKA
Impresi Fotografi
Infra Red Community
Inova Photography School
IPDN Klub Foto
ISFD Sekolah Foto
ISO 77
Jendela Fotografi
Jepret (Klub foto SMA 3)
Jepret (Jendela Edukasi Pemotret) UNISBA
Jepret IMA-G (Klub Foto Arsitektur ITB)
Jonas Photo
JPOP Jonas
Kamal Photo
KAMPI (Kamera Pinjaman)
KLASTIC (Kaskus Plastic & Toy Camera Community)
KLJ Bandung
KFN-ITB
Komunitas Fotografi Ponsel (Kofipon)
Komunitas Seni Fotografi
Kontiki Photography
Lab School UPI Klub Foto
LFM (Liga Film Mahasiswa) ITB
Lisma UNPAS
Lomografi Bandung
Maphac (Klub Foto MARANATHA)
Medicourse Sekolah Foto
Megapixels (Komunitas Fotografi Universitas Widyatama)
Myinfrared.com
NHI klub foto
Padepokan Fotografi Begerak Bandung
PANAKOL (Paguyuban Kamera Analog & Kolot)
Perhimpunan Amatir Foto (PAF)
Papyrus Photo
Parasatra UNPAD
Performa UPI
Photogroovy
Poco poco Photography
PONI klub foto arsitektur ITENAS
PhotoST (klub foto IT telkom)
PINHOLE BANDUNG
Potret UNPAR
Pro Foto
Satya Bodhi
Sekolah Foto Tcap Budhi Ipoeng
Seni Abadi Photo
Seruni Photo
Shasin Klub Foto J’pun
Spektrum UNPAD
STHB klub foto
Titan Foto
Titik Fokus UNIKOM
UIN klub foto
UNLA klub foto
Universitas Pasundan Jurusan Fotografi
Wangi Rupa
Wartawan Foto Bandung (WFB)

TEMPAT & WAKTU

TAMAN HURUF DAGO / TAMAN CIKAPAYANG DAGO / TAMAN WAWAN JUANDA

START : Sabtu 25 September 2010 Pukul 06.00 pagi.

FINISH : Minggu 26 September 2010 Pukul 06.00 pagi.

AGENDA KEGIATAN

Sabtu 25 September 2010

Pukul 06.00 -06.30 wib

- Briefing & Tanya Jawab Singkat

- Menyanyikan Lagu Halo-Halo Bandung

- Balada untuk Bandung oleh Mukti Mukti

- Doa bersama untuk Kota Bandung

- Foto Bersama

Pukul 06.30 (25 september 2010) – 06.00 wib (26 september 2010)

Minggu 26 September 2010

- Kumpul & Diskusi Pagi Bersama

- Foto bersama

- Car Free Day

Bagi para sahabat yang ingin mengikuti program ini silakan konfirmasi (nama, alamat & telepon) via sms ke no 022-70160771 atau email ke fotografibergerak@yahoo.com.

ACARA INI GRATIS ATAU TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN.

INFO LANJUT

Forum Fotografi Bandung 200 Tahun

Jalan Taman Pramuka No 181 Bandung

cp. Rani Nuraeni Telp. 022-70160771

Demikian info yang kami berikan. Kolaborasi para sahabat merupakan energi bagi kami. Salam.

Fotografi bergerak!!

Model Photo Contest of Ramadhan…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

Dalam rangka mengisi rangkaian program BANDUNG 200 YEARS PHOTOFEST
(Festival Fotografi 200 tahun Kota Bandung),

Puri Suryalaya & Redpool Cafe mengundang para sahabat pada program fotografi yaitu:

MODEL PHOTO CONTEST OF RAMADHAN

TEMPAT

PURI SURYALAYA Wedding House

Jalan Soekarno Hatta No 487  Bandung (Depan Kampus LPKIA)

Telp.022-7300704

WAKTU

Sabtu 21 Agustus 2010

*15.00 s/d 17.00 wib

Lomba Memotret Model Prewedding (3 orang model wanita berkebaya)

Model oleh AYI JENGGOT PHOTOGRAPHY & BIDIK PHOTOGRAPHY (UJANG BEDOG)

Make up model & Kebaya oleh DODI SURYANATA SUKMANA

Dekor & Property Pemotretan (Ranjang & Gebyok Pengantin) oleh ASTRID DEKOR

Hadiah Lomba Foto

- Juara 1 : Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Voucher Gratis pemakaian tempat pemotretan di Puri Suryalaya senilai Rp 300.000,-

- Juara 2 : Uang Tunai Rp 750.000,- + Voucher Gratis pemakaian tempat pemotretan di Puri Suryalaya senilai Rp 300.000,-

- Juara 3 : Uang Tunai Rp 500.000,- + Voucher Gratis pemakaian tempat pemotretan di Puri Suryalaya senilai Rp 300.000,-

- 7 peserta Nominasi : Voucher Gratis pemakaian tempat pemotretan di Puri Suryalaya senilai Rp 300.000,-

*17.00 s/d 18.00 wib

- Pengumpulan file foto lomba berupa soft copy file asli yang belum diolah (maksimal 2 bh foto)

- Musik Akustik Sore

*18.00 s/d 19.00 wib

- Sholat Magrib & Buka Puasa Bersama (Makan Malam)

BIAYA PENDAFTARAN

Rp 50.000,- per peserta

Bagi peserta dari luar Bandung dapat mentransfer biaya pendaftaran ke nomor rekening 086-0200716 atas nama Julius M Tomasowa BCA KCP RIAU

KETERANGAN

*Masing-masing peserta disarankan membawa kamera DSLR (poket, semi pro dan pro).

TEMPAT PENDAFTARAN

Air Photography Communications (APC)

Jalan Taman Pramuka No 181 Bandung

Telp. 022-70160771

(Paling lambat hari kamis 19 agustus 2010 pukul 17.00 wib)

Demikian info yang kami berikan. Kolaborasi para sahabat merupakan energi bagi kami. Salam.

Fotografi bergerak!!

FORUM ONGKOSS : Ruang Apresiasi Fotografi…{CLOSED}

Ibarat anak bermain bola di jalan raya, kini fotografi di Bandung dalam bahaya. Jangankan berbicara kurator fotografi atau kritikus foto, gallery fotografi yang layakpun belumlah ada. Sedih memang, yang membawa petaka. Pada akhirnya maha karya tersebut mati suri, menjadi hiasan dekoratif di jejaring sosial saja. Proses pemiskinan seperti ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama penyelenggara pendidikan, pebisnis foto (baca lab foto. Studio dll.) pehoby maupun tingkat amatir serius atau profesi fotografer. Bagaiman mana kita menyikapinya? Peran apa yang bisa kita berikan? Mari temui di acara

Forum diskusi fotografi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS

WAKTU

pertemuan bulan ketiga, tanggal 23 Agustus 2010, pukul 16.00 wib

TEMPAT

Arena Cultural Jalan Pajajaran No. 80e (Pandu) telp 022.6038456

(gratis) Info Deni 081322393930

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers